Get Your Website Now

Kisah Anak Yang Minta Diajarkan Shalat






Syaikh Ibn Zhafar al-Maki (dalam bukunya Anba' Nujuba' al-abna) berkata, "Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Basthami Radhiallahu 'anhu membaca ayat, "Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil. (Yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu". (Q.S Al-Muzzammil[73] : 1-3).

Ia bertanya pada ayahnya, "Wahai ayahku, kepada siapa Allah perintahkan firman ini?"
Sang ayah menjawab, "Anakku, perintah ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam".
Si anak bertanya lagi, "Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam?"
Sang ayah menjawab, "Wahai anakku, qiyamullail dikhususkan dan diwajibkan kepada Rasulullah dan tidak diwajibkan kepada umatnya". Maka si anak terdiam.

Saat ia membaca firman Allah, "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu…". (Q.S Al-Muzzammil[73] : 20).
Ia bertanya pada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya saya pernah mendengar bahwa segolongan umat terdahulu mengerjakan shalat malam. Siapakah golongan yang dimaksud?"
Sang ayah menjawab, "Anakku, mereka adalah para sahabat".
Si anak tak henti bertanya, "Wahai ayahku, kebaikan apa yang kita peroleh dengan meninggalkan sesuatu yang dikerjakan Nabi dan sahabatnya?"
Sang ayah berkata, "Engkau benar wahai anakku".

Semenjak saat itu, sang ayah mengerjakan shalat malam. Suatu malam, Abu Yazid terjaga dari tidurnya. Ia melihat ayahnya sedang mengerjakan shalat malam, lalu ia berkata, "Wahai ayahku, ajari aku bagaimana cara bersuci supaya aku bisa shalat denganmu!"
Sang ayah mencela, "Wahai anakku engkau masih kecil".
Si anak tidak terima, "Wahai ayahku, bila nanti pada hari dimana manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, lalu aku berkata kepada Tuhanku, 'Aku dulu pernah bertanya kepada ayahku bagaimana cara bersuci supaya aku bisa shalat dengannya. Namun kemudian dia menolak menjawab pertanyaanku, malah ia berkata, "Tidurlah, engkau masih kecil!"' Bila aku mengatakan semua itu di hadapan Allah, maukah ayah seperti ini?"
Sang ayah menolak, "Tidak, sungguh demi Allah wahai anakku, aku tidak menginginkan hal itu".
Lalu sang ayah pun mengajarinya dan si anak itu shalat dengan ayahnya.

Wallahu a'lam


Kisah Qobil Dan Habil


Asssalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah walhamdulillah. Dengan nama Allah serta segala puji hanya milik-Nya. sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, kekasih Allah dan kekasih semua hamba Allah yang merindukannya.

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi kisah tentang dua anak Adam yang lahir pertama kali di muka bumi ini yang tentunya terdapat sebuah pelajaran dan peristiwa yang ada dalam kisah ini, yaitu Kisah Qobil dan Habil.

Allah Swt. berfirman:

"Ceritakanlah hai Muhammad kepada mereka itu dengan sebenar-benarnya akan riwayat dua anak Adam, ketika keduanya berkurban kepada Allah, maka Allah menerima kurban dari salah satunya diantara keduanya, Allah tidak menerima dari lainnya, maka ia (Qabil) berkata: demi Allah saya akan membunuhmu. Maka Habil menjawab: Sesungguhnya Allah menerima kurban dari orang-orang yang takut kepada-Nya. demi Allah, kalau kamu memukul dengan tanganmu karena hendak membunuh saya, maka saya tidak akan membalas pukulanmu itu, karena saya takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya saya menghendaki supaya kamu kembali dengan membawa dosa membunuh saya beserta dosamu sendiri, maka kamu adalah masuk golongan orang-orang yang masuk neraka, demikianlah balasan orang-orang yang aniaya. tetapi hawa nafsu Qobil selalu hendak membunuh saudaranya, habil pun dibunuh, maka ia (Qobil) adalah masuk golongan yang merugi." (QS. Al-Maidah:27-30)

Sejak Nabi Adam as dan siti Hawa diturunkan oleh Allah Swt. ke bumi yang sebelumnya mereka berdua tinggal di dalam surga, karena telah melanggar atau berbuat kesalahan, yaitu mereka berdua memakan buah khuldi yang telah dilarang oleh Allah Swt, disebabkan oleh bujuk rayuan Iblis laknatullah. Di bumi inilah mereka berdua memulai hidup baru setelah berpisah cukup lama dan akhirnya Nabi Adam dipertemukan kembali dengan Hawa oleh Allah disuatu tempat tanah yang sangat luas (lapang) yang kini tempat pertemuan itu dikenal dengan nama Padang Arafah yang digunakan sebagai tempat wukuf, salah satu bagian dari rukun haji.

Di tempat inilah kemudian Nabi Adam dan Siti Hawa memulai hidup baru dan berkembang biak atau melahirkan keturunah pertama sebagai manusia di muka bimi ini. Setiap kali Hawa melahirkan atau mempunyai anak selalu dikaruniai oleh Allah Swt. anak kembar, yaitu laki-laki dan perempuan dalam satu kelahiran. Karena waktu itu Allah swt. membolehkan perkawinan dengan saudara sekandung, tetapi tidak boleh dengan saudara satu kelahiran (saudara kembar). Karena masih dalam tahap pertama mengembangkan manusia, maka mengawini saudara kandung diperbolehkan pada waktu itu, tetapi sekarang haram hukumnya.

Dari banyak anak Nabi Adam yang dilahirkan kembar adalah Qobil dengan saudara perempuam kembarannya bernama Iqlima dan Habil dengan saudara perempuan kembarannya bernama labuda. Oleh karena itu Allah Swt. memerintahkan kepada nabi Adam as. untuk menikahkan anak kembarnya dengan cara perkawinan silang, yaitu Qobil dengan Labuda dan Habil dengan Iqlima. Atas peraturan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, maka mereka berdua wajib untuk mentaatinya. rupanya ketetapan hukum itu tidak disetujui oleh Qobil, karena ia menginginkan supaya ia dinikahkan dengan saudara kembarnya, yaitu iqlima karena lebih cantik daripada Labuda saudara kembarnya Habil. Menentang dan tidak setuju dengan ketetapan Allah itu, lalu Qobil mengadu kepada ayahnya dengan maksud agar ayahnya menyetujui ia menikah dengan iqlima. Tetapi karena peraturan hukum itu telah menjadi ketetapan Allah, maka ayahnya tidak berani melanggar ketetapan itu. keadaan berubah menjadi tegang, akan hal itu nabi Adam kemudian menasihati kedua anaknya itu, agar mereka berdua sama-sama menyerahkan kurban untuk Allah Swt. Siapa kurbannya yang diterima oleh Allah, maka ia itulah yang berhak menikah dengan Iqlima.

Kemudian Qobil dan Habil sama-sama membuat kurban untuk Allah, tetapi Qobil dalam membuat kurban benar-benar tidak ikhlas karena Allah, tetapi hanya semata-mata menuruti hawa nafsunya untuk menikahi Iqlima. Adapun Habil membuat kurban benar-benar ikhlas untuk Allah dalam melaksanakan perintah ayahnya. Pada akhirnya kurban Habil yang diterima, olek karena itu Habil berhak menikah dengan Iqlima yang memiliki wajah yang cantik itu. Qobil tidak menerima kenyataan itu dan kemudian karena telah dikuasai oleh hawa nafsunya dan timbul dalam hatinya sifat iri dan dengki kepada Habil, ia berniat hendak membunuh Habil.

Habil yang telah mengetahui rencana jahat saudaranya itu tetap tenang dan berserah diri kepada Allah Swt. dan berkata kepada Qobil, "Sesungguhnya kurban yang diterima Allah adalah kurbannya orang yang benar-benar takut kepada Allah, maka kalau saudara benar-benar hendak membunuh saya, sungguh saya tidak ada keinginan membunuhmu, karena saya takut kepada Allah.

Habil kemudian dibunuh oleh Qobil. Dengan demikian peristiwa pembunuhan ini adalah pembunuhan yang pertama kali terjadi yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini. Setelah Qobil membunuh saudaranya Habil, tiba-tiba ia menjadi orang yang kebingungan lantaran mau diapakan mayat saudaranya itu, karena pada waktu itu belum tahu cara menguburkan mayat. Kemudian Allah swt. memberi contoh dua ekor burung Gagak yang berkelahi dan salah satunya ada yang mati.Maka burung gagak yang masih hidup itu melakukan penggalian tanah membuat lobang untuk menguburkan burung gagak yang sudah mati itu.

"Kemudian Allah mengirim seekor burung gagak yang melobangi tanah dengan paruh dan kakinya, supaya diperlihatkannya kepada Qobil bagaimana semestinya ia menguburkan mayat saudaranya itu." (QS. Al-Maidah:31)

Kemudian Qobil berkata:

"Amat celaka nasibku, tak dapatkah saya berbuat seperti yang dilakukan oleh burung gagak itu."

Demikianlah kisah ini diceritakan kembali. Habil adalah manusia pertama meninggal dunia karena dibunuh di muka bumi ini. begitu juga dengan Qobil adalah manusia pertama yang melakukan pembunuhan tanpa hak. dengan demikian setiap ada pembunuhan yang dilakukan tanpa hak oleh manusia, maka Qobil mendapat bagian dari dosa pembunuhan itu, karena dialah orang yang pertama kali memberi contoh tentang pembunuhan.

Akhirnya segala kekurangan dalam cerita atau kisah Qobil dan Habil ini mohon maaf dan kepada Allah saya mohon ampun dan petunjuk agar dapat selalu berada di jalan yang diridhoi-Nya.

Semoga kisah ini bermanfaat dan dapat memberi pelajaran serta hikmah yang terkandung dalam kisah ini.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kisah Siti Masyitoh: Tukang Sisir Keluarga Fir'aun




Bismillah, Alhamdulillah, sholawat dan salam keatas Nabi Saw. beserta keluarga dan para sahabat serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Sahabat Muslim mungkin kisah ini sudah hampir musnah ditelan zaman atau telah dilupakan oleh kalangan ummat islam, anak-anak generasi muda muslim saat ini mungkin saya yakin mereka tidak pernah dengar kisah yang sangat memberikan inspirasi besar dalam kehidupan, bagaimana keteguhan dan keyakinannya menjadikan ia wanita yang mulia disisi Allah SWT. Siapa wanita mulia tersebut dialah Siti Masyitoh yang hidup pada zaman Fir’aun dan sekaligus menjadi pembantu mengurus anak-anaknya Fir’aun. Kisah ini saya dapatkan dari guru-guru saya pada saat duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah.Berikut Kisahnya

***

“Apa, di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.

“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, menteriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.
“Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.
“Benar,” jawab Masyitoh mantap.
“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.
“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”
“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”
“Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.”
Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.
“Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.
Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.
“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.
Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Allah pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.
Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.

Ketika Nabi Muhammad Saw. isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu, Jibril?” tanya baginda Nabi.
“Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

[Dari Berbagai Sumbernya]

Kisah Nyata Istri yang Mengkhianati Suaminya dan Berzina Karena Facebook


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Ini adalah cerita pengakuan seorang istri yang menulis pada catatan facebooknya tentang dirinya yang terjebak perselingkuhan dan perzinahan akibat (sisi buruk) facebook, semoga bisa kita jadikan renungan dan bisa jadi pelajaran bagi kita semua ..
----

"Pernikahanku dengan Rudi (nama samaran) sudah memasuki tahun ke-10. Selama itu hubunganku dengan Rudi sangat harmonis. Apalagi dengan kehadiran tiga buah hati kami.

Namun, petaka di dalam keluargaku mulai muncul tatkala aku mengenal facebook (FB). Gara-gara jejaring sosial inilah impianku untuk membangun rumah tangga yang utuh berantakan. Aku yang sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga tergoda dengan rayuan lelaki lain melalui FB.

Cerita ini berawal ketika 2009 lalu aku diperkenalkan oleh suamiku tentang facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah. Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku.

Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu. Wajahku memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 34 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalan lebih jauh denganku.

Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami. Sehingga, mereka tidak pantas untuk menyukaiku.

Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Salam (samaran), semuanya berubah. Salam adalah salah satu pejabat di perusahaan BUMN di Sulsel. Salam betul-betul mampu menggoyahkan imanku. Bahasanya yang santun, dan caranya ia memerhatikanku di facebook telah membuat hati ini luluh.

Setiap hari kami ngobrol lewat facebook. Bahkan kami saling bertukar pikiran tentang rumah tangga kami masing-masing. Ya … boleh dibilang kami saling curhat-curhatan. Dari sinilah perasaan aneh muncul, baik saya maupun Salam. Akhirnya, Salam menyatakan sayangnya lewat chat dan ingin berjumpa denganku.

Aku yang sejak awal sudah tertarik dengan Salam tak mampu menolaknya. Namun, aku masih malu-malu menyatakan suka kepadanya.

Setelah sekian bulan hanya chat di facebook, kami pun sepakat untuk bertemu. Kami kemudian melakukan pertemuan di salah satu restoran di bilangan Makassar bagian barat. Saat itu Salam datang seorang diri, sementara aku membawa anak bungsuku.

Walaupun, aku menyukainya, aku tak ingin pertemuan kami menimbulkan fitnah. Perasaanku deg-degan saat bertemu dengan Salam. Ia pun menyapaku dengan suara berat. Ada yang lain muncul di dalam hatiku. Di tempat itu, Salam pun kembali menyatakan ketertarikannya kepadaku. Akupun menyatakan hal yang sama.

Pertemuan dengan Salam di restoran tersebut bukanlah hal yang terakhir. Sejak pertemuan itu, kami pun sering janjian untuk bertemu. Bahkan, kadang, aku bertemu dengan Salam seorang diri tanpa membawa anakku. Kebetulan di rumah aku memiliki seorang pembantu rumah tangga.

Rupanya, inilah awal dari keretakan rumah tanggaku dengan Rudi. Aku sudah mulai jarang di rumah tanpa sepengetahuan Rudi. Maklum, setiap hari Rudi bekerja mulai dari pagi hingga malam.

Sementara, kadang aku selalu bertemu dengan Salam dari siang hingga sore. Salam telah membuka mataku tentang indahnya dunia ini. Ia mengajak aku shopping, wisata kuliner, dan mendatangi tempat-tempat hiburan lain. Ini semua kulakukan tanpa harus mengeluarkan duit. Aku seakan-akan sudah terjebak dalam kehidupan foya-foya.

Walaupun aku sering foya-foya dengan Salam, sikapku di rumah tetap seperti biasa. Aku tetap melayani suamiku ketika ia baru pulang dari kantor, termasuk mengurus pakaian dan makanannya saat ia akan ke kantor di pagi hari.

Setelah jalan bareng dengan Salam selama dua bulan, aku pun tak mampu menolak ajakan Salam untuk bertemu di hotel. Saat itu Salam sudah membooking satu kamar di salah satu hotel berbintang di Makassar.

Sekitar pukul 11.00, aku datang menemuinya di kamar itu. Setelah kami berbincang-bincang selama beberapa menit, aku tak kuasa ketika Salam memeluk tubuhku. Akhirnya, aku pun terjebak, dan rela melakukan hubungan suami istri dengan lelaki yang bukan suamiku sendiri.

Sejak peristiwa itu, kami sering melakukannya, dari satu hotel ke hotel yang lain. Aku pun begitu menikmati kehidupanku ini. Namun, hatiku setiap hari berteriak. Aku tak rela mengkhianati suamiku yang sudah memberiku tiga orang anak. Apalagi ia begitu baik dan begitu mempercayaiku. Ia pun sangat disenangi oleh keluargaku.

Aku ingin lepas dari kehidupan Salam yang harus kuakui telah memberi warna baru dalam hidupku. Ia pun mengaku tulus mencintaiku. Di depanku juga ia mengaku berdosa telah mengkhianati istrinya. Tapi, ia pun tak bisa meninggalkanku.

Bulan berganti bulan, kehidupanku tak ada yang berubah. Aku pun dan Salam masih tetap jalan bareng. Bahkan, aku semakin takut kehilangannya. Namun, peribahasa yang mengatakan, "sepandai- pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga" telah terbukti kepada diriku.

Sepandai-pandainya aku menyembunyikan hubunganku dengan Salam, akhirnya ketahuan juga oleh suamiku. Aku ketahuan selingkuh setelah suamiku membaca SMS Salam yang berisi kata-kata mesra. Ia pun memaksa aku untuk mengaku. Aku saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi suamiku langsung menghubungi nomor ponsel Salam. Awalnya Salam membantah, dan mengatakan bahwa ia dan diriku hanya berteman.

Namun, setelah diancam oleh suamiku, Salam mengakuinya dan meminta maaf. Namun, suamiku sudah terlanjur sakit. Ia pun langsung menceraikanku. Saat ini aku, dan Rudi masih dalam tahap perceraian.

Namun, dalam doaku setiap selesai shalat aku memohon maaf kepada Allah SWT, kepada suamiku, kepada anak-anakku dan kepada keluargaku karena aku telah menyia-nyiakan cinta mereka. Aku ikhlas menerima ini semua atas konsekuensi dari perbuatanku sendiri. Namun, aku masih tetap berharap untuk bisa kembali bersama dengan Rudi, dan akan aku buktikan untuk menjadi istri yang baik."

Catatan : ...

Sejatinya Teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam kehidupannya sehari hari, tapi sayang, kenyataannya kita sendiri yang menyalahgunakan teknologi tersebut untuk hal-hal yang tidak baik, karena menurut data yang ada, sumber perceraian terbesar dunia saat ini adalah perselingkuhan via FACEBOOK disusul oleh TWITTER dan SMS/BBM.

Jadi gunakanlah semua teknologi itu dengan bijak, serta hati-hati dan waspadalah selalu karena setan akan terus menggoda untuk menyesatkan diri kita semua. Gunakanlah jejaring sosial untuk mendapatkan keberkahan silaturahim, mencari ilmu yang bermanfaat atau untuk syiar, dan terutama bagi wanita, janganlah memasang foto yang memperlihatkan aurat sehingga menarik perhatian lawan jenis.

Terima Kasih dan mudah mudahan bermanfaat untuk kita dan semua keluarga Indonesia ..

Wallahu a'lam bish-shawab ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ....


Sumber: Lampu Islam

Ketika Hati Sedang Diuji (2)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya masih diberi waktu oleh Allah SWT. untuk berbagi cerita tentang bagaimana saya perlahan-lahan atas pertolongan dari Allah tentunya dapat menjalani kehidupan yang tadinya sungguh melelahkan pikiran, entah apa yang akan terjadi jika Allah tidak menolong saya. Beban hidup yang sungguh berat aku rasakan. ini ujian atau azab yang aku dapatkan, entahlah aku tak tahu. Namun aku tetap optimis dan berusaha berbaik sangka kepada Allah SWT. Musibah sili berganti datang seolah-olah tiada henti.

Aku bukanlah orang yang penyabar, aku rasanya tak sanggup menanggung hidup penuh dengan penderitaan, hutang yang lumayan cukup banyak, lantaran daganganku terus merugi setiap harinya, membuat aku menjadi bingung dan apa yang harus aku lakukan, aku tak tahu. Sebagaiman telah aku ceritakan pada postingan beberapa hari yang lalu. Bagi saudara yang belum membacanya, silakan KLIK DISINI.


Ketika anak kedua kami lahir dengan cara operasi cesar, karena mengalami pendarahan yang cukup banyak, kemudian Dokter rumah sakit itu (RSUD BARI Palembang) memindahkan istri saya ke ruang ICU. Waktu itu seminggu lagi mau Lebaran (Idul Fitri). Saudara mungkin tahu, bahwa pada hari-hari itu adalah sumber rezeki yang sangat dinantikan, karena saya yang tadinya adalah seorang pedagang pakaian menunggu hari-hari yang dinantikan itu, namun apalah daya saya tak merasakannya karena saya harus menemani istri saya setiap hari yang tidak mungkin saya tinggalkan dalam keadaan koma dirumah sakit. Alhamdulillah, walau tidak mendapat keuntungan dalam berdagang, tetapi Allah telah memberikanku permata yang indah, yaitu kelaHIRAN anak kami dan yang terutama adalah keselamatan istri yang saya cintai. Itulah keuntungan yang saya dapatkan, yaitu kasih sayang Allah SWT.

Saudaraku, rupanya ujian yang saya terima tidak berhenti disini saja. Setelah anak kedua kami yang diberi nama Ahmad Zaki Athoillah berusia 40 hari terkena penyakit hernia. Pada waktu itu saya tak terlalu memikirkannya, karena saya menganggap akan hilang dengan sendirinya. Satu tahun lebih anak kedua kami menanggung penyakit itu, jika ia menangis penyakit itu semakin membesar dan berwarna merah. Sayapun berusaha membawanya ketempat pengobatan alternatif. Uang yang saya keluarkan untuk kesembuhan anak kami juga lumayan cukup besar, namun semua itu sia-sia. Penyakitnya tak sembuh juga. Dalam keadaan yang demikian akupun menyerah, karena saya tidak memiliki uang lagi, daganganku terus mengalami kemunduran, modalpun habis dimakan dan biaya berobat anak kami. Belum lagi angsuran bank harus dibayar. Sungguh aku mengalami kehidupan yang pahit. Rumah tanggaku hampir saja berantakan. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi.. Bingung...Bingung... Tak ada jalan keluar.

Sekali lagi aku ucapkan Alhamdulillah, setiap kesulitan didalamnya terdapat kemudahan itulah yang aku rasakan. Atas kesabaran yang Allah berikan. berkat seorang sahabat yang menceritakan perihal penyakit anak kami kepada seeorang yang sungguh mulia hatinya. Sudi dengan mengulurkan tangan menyuruh aku untuk membawa kerumah sakit dan membiayai semua biaya operasi anak kami. Semoga Allah memberi balasan pahala dan memberikan tempat yang mulia kepadanya. Amin....

Permasalahan yang baru kemudian datang lagi, Daganganku diambang kebangkrutan dan akhirnya benar-benar bangkrut. Kegoncangan dalam rumah tanggapun mulai terasa. Hutang di bank harus dibayar, makanpun menjadi keharusan. Akupun kembali bekerja sebagai buruh dipasar. Penghasilan yang kurang dari cukup tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi untuk membayar hutang setiap bulannya. (Insya Allah kita akan lanjutkan dilain kesempatan)

Ketika Hati Sedang Diuji


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sholawat dan salam bagi baginda Rasulullah SAW.

Saudaraku, pernahkah anda mengalami kegelisahan dan kegundahan hati dalam menjalani hidup. Dimana kita mengalami pahit getirnya kehidupan. Tatkala usaha yang kita bangun hancur berantakan, rumah tangga yang kita bina mulai rapuh, kehidupan ekonomi yang kian memburuk, sehingga guncangan yang dahsyat sudah terasa, laksana perahu yang terhempas badai ditengah lautan yang diiringi hujan lebat dan halilintar yang sili berganti menggelegar dari langit. Hati mulai gelap dan pikiran menjadi kalut menerawang entah apa yang hendak dipikirkan.

Saudaraku, beban hidup yang semakin berat dan sungguh mencekam ketika hutang melilit pinggang demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin sulit. Dalam keadaan yang demikian pahit, apa yang akan saudara lakukan? Apakah engkau akan lari dari kenyataan, sehingga anda akan dikatakan sebagai seoarng pengecut, ataukah anda akan menambah beban hidup lebih parah lagi, seperti anda terjebak dalam badai ditengah lautan, lalu saudara malah melubangi kapal yang sedang diterjang bencana, atau mungkin saudara akan berusaha meminta pertolongan, tetapi saat itu tidak ada seorangpun yang menolong anda dikarenakan mereka sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

Mungkin saudara masih ingat atau tahu tentang kisah Nabi Musa as dengan nabi Khidir yang didalam perjalanan ketika nabi Musa diperintahkan Allah SWT. untuk mengikuti nabi Khidir malah dibuat bingung dengan tingkah laku dan perbuatan nabi Khidir sehingga nabi Musa menjadi kesal bercampur marah yang tidak beralasan, karena ketidaktahuan. Atau kita ambil contoh kisah yang lain yang dialami oleh Nabi Yunus. Dimana nabi Yunus marah kepada kaumnya karena tidak satupun yang mau menerima nasihatnya atau mendengarkan seruannya untuk meninggalkan patung berhala sebagai sesembahan kaummya. Seruannya untuk beriman dan menyembah Allah SWT. ditolak mentah-mentah, sehingga kaumnya hendak mengusir nabi Yunus. Melihat perbuatan kaumnya, nabi Yunus berdo'a kepada Allah SWT. dengan hati yang bercampur marah, supaya Allah menurunkan azab kepada kaumnya yang enggan beriman kepadanya dan kepada Allah SWT.

Sebelum azab itu tiba, malah nabi Yunus as keluar atau pergi dari kota sebelum Allah memerintahkan Nabi Yunus untuk meninggalkan kota tersebut. Allah selalu menepati janjinya, azab yang diminta kaumnya dan do'a nabi Yunus dikabulkan. ketika azab yang berupa angin kencang itu telah datang, Nabi Yunus telah jauh meninggalkan kaumnya tanpa melihat azab itu datang. Nabi Yunus tidak mengetahui kalau kaumnya yang tadi ingkar telah beriman kepada Allah SWT. dan mengakui beliau sebagai utusan Allah. Apa yang terjadi, badai yang semestinya akan menghancurkan kaum nabi Yunus as. justru berbalik arah menimpa dirinya sendiri. Ketika kapal yang ia tumpangi berada ditengah laut. dihantam badai ombak yang besar, sehingga hampir menenggelamkan kapal yang ditumpanginya itu. Atas kesepakatan penumpang kapal, kemudian dilakukan undian yang barangsiapa namanya keluar setelah diundi akan dibuang kelaut untuk mengurangi beban kapal agar tidak tenggelam. semua orang tidak percaya, bahwa nama yang keluar adalah Nabi Yunus. Lalu diulang sampai tiga kali yang keluarpun nama Nabi Yunus. Dengan berserah diri kepada Allah dan menerima putusan itu yang ia yakini bahwa sesungguhnya Allah yang telah memberi keputusan tersebut. Nabi Yunus terjun kelaut lalu dimakan oleh ikan nun (paus) yang sangat besar. Sebagai balasan bagi orang yang lari dari kenyataan pahitnya celaan yang dilakukan kaumnya terhadap Nabi Yunus as. Kemudian Nabi Yunus hidup didalam perut ikan tersebut sampai mengakui kesalahan yang ia perbuat. Nabi Yunus bertobat dan tobatnya diterima dengan berkata ketika ia berada dalam perut ikan paus itu,

"Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka inni kuntu minadz zholimin"

Tidak ada Tuhan Selain Engkau, Maha Suci Engkau,sungguh aku termasuk orang yang zalim.


Kisah kedua nabi diatas adalah sebuah contoh atau pelajaran yang hendaknya kita pahami, bukankah pada diri Rasul itu ada suri teladan yang baik serta hikmah. Nabi Musa mendapat pelajaran yang berharga dari Allah SWT. melalui seorang hamba yang saleh, sedangkan Nabi Yunus mendapatkan pengajaran dari Allah. sesulit apapun keadaan yang kita alami, semestinya kita tak boleh lari dari pahitnya hidup dalam kesengsaraan, bukankah Allah SWT telah berkata; "Sesungguhnya didalam kesulitan itu ada kemudahan" (Al-Insyirah:6)

Dengan demikian Nabi Yunus telah terbebas dari pekerjaan yang berat dan diselamatkan dari kegelapan yaitu, kegelapan dalam perut ikan paus, dari gelapnya malam, dan dari gelapnya lautan.

Ini adalah sebuah kisah yang menjadi pelajaran untuk saya sendiri, dimana ketika itu saya mengalami musibah yang sili berganti tiada henti, kehilangan pekerjaan disebabkan keegoisan, mudah marah dan cepat tersinggung. Kemudian sebelum berhenti bekerja ketika istri hendak melahirkan anak pertama kami divonis operasi cesar. Terbesit dalam hati betapa besar biaya yang hendak dibayar, sedangkan uang hanya cukup melahirkan normal. Hatipun mulai gelisah memikirkan biaya yang akan dikeluarkan. Sungguh didalam kesulitan itu ada kemudahan. Pihak rumah sakit meringankan biaya persalinan dengan operasi cesar hanya tiga juta rupiah, tetapi lagi-lagi saya tidak memiliki uang sebesar itu. sayapun menghubungi atasan saya malam itu. Saya pun mendapatkan pinjaman.

Namun semua itu belum selesai, ketika anak pertama lahir, saya berhenti bekerja. Beberapa hari kemudian bayi kami terkena penyakit seperti cacar air, seluruh tubuhnya dipenuhi bintik-bintik yang mengeluarkan air dan suhu badannya sangat terasa panas. Saya sangat sedih, lalu saya bertanya kepada Allah; "Ya Allah, apa yang menyebabkan anak kami seperti ini, jika ini disebabkan oleh dosaku, maka ampunilah aku." Tak lama kemudian ketika anak saya dihadirkan kehadapan orang banyak dengan perasaan sedih dan menahan air mata saya membawanya. Ketika itu adalah peresmian nama anak kami.

Alhamdulillah, keesokan harinya bintik-bintik itu hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun sampai sekarang penyakit itu tidak kembali lagi. Inilah pertolongan Allah yang kedua kalinya. Setiap kesulitann pasti ada kemudahan dan hanya kepada Allah sajalah kita berharap.

Sayapun kemudian membuka sebuah usaha berjualan pakaian, Alhamduliilah yang tadinya daganganku cukup laris, namun ujian datang lagi, ketika anak kedua lahir. Istri saya pun kembali menjalani operasi cesar dan yang lebih menyedihkan lagi istriku mengalami pendarahan yang hebat, sehingga harus dirawat diruang ICU, waktu itu bulan puasa.


Jika saudara ingin mengikuti perjalanan hidup saya dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan bagaimana secara perlahan Allah melepaskan satu persatu musibah yang saya alami. segera aktifkan email berlangganan gratis yang berada dibawah artikel di situs ini. Insya Allah, dengan kemurahan dan kasih sayang Allah Swt kita dapat berbagi cerita dalam sebuah kisah Islami.



Enter your email address:

Delivered by FeedBurner