Get Your Website Now

Kisah Mush'ab bin Umair (3)


Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat kitab suci dari Allah, menyampaikan kalimatullah "Bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa" secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberap peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak dengan pertolongan Allah swt. yang telah memberikan kecerdasan dan kebesaran jiwa pada diri Mush'ab. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap oleh Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, Tuhan-Tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara langsung. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam pikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad yang diserukan beribadah kepada-Nya oleh Mush'ab yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempatnya dan tak seorang pun yang dapat melihatnya.

Melihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api yang sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi Mush'ab sang duta pertama Islam tetap tenang dengar air muka yang tidak berubah. Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, seraya berkata : "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami ? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!. Mush'ab bin Umair berkata, "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya andainya anda menyukai nanti, andan dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!"

Sebenarnya Usaid adalah seorang yang pandai dan berpikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Mush'ab hanya meminta agar Usaid bersedia untuk mendengar apa yang akan disampaikan oleh Mush'ab, jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan penduduk kabilah Abdul Asyhal untuk mencari tempat lain. Akhirnya Mush'ab duduk dan meletakkan lembingnya ke tanah untuk mendengarkan. Mush'ab kemudian membacakan ayat-ayat Al-Quran dan menguraikan dakwah yang dibawah oleh Nabi Muhammad Saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahan ayat-ayat Al-Qur'an yang disampaikan oleh Mush'ab bin Umair.

Belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?" Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian Mush'ab berkata: "Hendaklah ia mensucikan diri dari pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq di ibadahi melainkan Allah". Kemudian Usaid meninggalkan mereka dan kembali lagi sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil mengatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itupun tersebar luas. KeIslaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz dan setelah mendengar penyampaian Mush'ab, Sa'ad bin Mu'adz merasa puas dan masuk Islam pula. Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin 'Ubadah. Dengan keislaman tiga orang ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Penduduk Madinah saling berdatangan dan bertanya-tanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah, dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!"

Halaman 1 2 3


  • Bersambung....

  • Kisah Mush'ab Bin Umair (2)


    Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil dirumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan amat rapat. Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi . Ia tinggal disana bersama saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekkah, kemudian pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas perintah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

    Mush'ab ketika tinggal di Habsyi dan Mekkah mendapat ujian dan penderitaan yang harus dilalui olehnya, namun ia berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan kepada Allah Swt.

    Pada suatu hari Mush'ab tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah Saw. Mereka memandang Mush'ab dengan menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka sedih karena melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal sebelum ia masuk Islam adalah seorang pemuda yang tak obahnya seperti kembang dengan pakaian berwarna-warni dan menyebarkan bau yang harum. Tetapi Rasulullah Saw. menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta dan syukur di dalam hati, diselah bibirnya tersemat senyuman bahagia, seraya bersabda:

    "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

    Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi makanannya dimakan oleh orang yang telah mengingkari berhala dan patut mendapat kutukan daripadanya, walau anak kandungnya sendiri. Akhirnya pertemuan Mush'ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena mengetahui kebulatan tekad anaknya, ibunya kemudian mengusirnya dengan cucuran air mata. Sementara itu Mush'ab mengucapkan selamat tinggal dengan mengangis pula.

    Ketika ibunya mengusir Mush'ab dari rumah sambil berkata, "Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi.' maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata, "Wahai bunda! Telah aku sampaikan nasihat kepada ibu, dan aku menaruh kasihan kepada ibu. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."

    Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut: "Demi bintang! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi."

    Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit 'Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Islam, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut "hijratul Rasul" sebagai peristiwa besar. Mush'ab memikul amanah itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa pikiran yang cerdas dan budi pekerti yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Sesampai di Madinah, didapatinya kaum Muslimin disana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai'at di bukit 'Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang-orang Madinah masuk Islam berkat Mush'ab bin Umair.

    Pada musim haji berikuknya dari perjanjian 'Aqabah, kaum Muslimin Madinah mengirim utusan kepada Rasulullah saw. yang dipimpin oleh duta yang dikirim oleh Nabi saw sendiri, yaitu Mush'ab bin Umair. Dengan tindakan yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu dirumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyampaikan kalimat Allah "Bahwa Allah Tuhan Maha Esa" secara hati-hati.

    Halaman : «« Sebelumnya

    Kisah Nabi Muhammad Saw



    1. Kelahiran Nabi Muhammad Saw

    Kala itu bangsa Arab dan pada umumnya manusia seluruh dunia, mengalami kebodohan dan kerusakan ahklaq. Bangsa Arab yang amat sangat dalam kerusakan akhlak atau moral, oleh karena itu Allah telah mengutus seorang rasul dari bangsa mereka sendiri. Saat itu lahirlah seorang anak dari keluarga sederhana, seorang bayi yang akan membawa perubahan dan kemajuan peradaban manusia .

    Nabi Muhammad saw, menurut para ahli, bahwa beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 April 571 H. Kenapa disebut tahun gajah, karena pada saat itu ada seorang Raja Najasyi yang beragama Nasrani (Kristen) membuat sebuah bangunan untuk menandingi Ka'bah. Raja Najasyi kemudian memerintahkan kepada Abraha dan pasukan yang mengendarai gajah untuk menyerang kota Mekkah dengan tujuan menghancurkan Ka'bah, agar orang tidak lagi mengunjungi Ka'bah melainkan pergi untuk mengunjungi bangunan yang dia buat yang berada dinegeri Shan'a ibukota Yaman.

    Nabi Muhammad Saw ketika lahir telah menjadi anak yatim, bapaknya yang bernama Abdullah meninggal dunia ketika perjalanan pulang dari berdagang karena sakit, waktu itu Nabi Muhammad Saw. masih dalam kandungan ibunya. Ketika Nabi Muhammad lahir, ia disambut oleh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib dengan penuh rasa kasih sayang, kemudia kakeknya membawa beliau ke Ka'bah. Ditempat yang suci inilah kakeknya memberi nama, yaitu Muhammad, satu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

    Sudah menjadi adat atau kebiasaan bangsa Arab di Mekkah pada saat itu, bahwa anak yang baru lahir akan disusui oleh wanita lain. Tadinya semua tidak mau menyusuhinya, karena Nabi Muhammad adalah anak orang miskin sehingga mereka, berfikir tidaklah akan mendapatkan upah dari menyusui Nabi Muhammad Saw. Berita ini terdengar oleh seorang wanita dari pegunungan yang berasal dari suku Badwi yang bernama Halimatus Sa'diyah, dia merasa kasihan terhadap Nabi Muhammad Saw. karena tidak ada yang mau menyusuinya. Dengan izin suaminya, kemudian Halimatus Sa'diyah mendatangi dan bersedia untuk menyusui Nabi Muhammad Saw. Atas persetujuan semua keluarga, maka Nabi Muhammad saw. diserahkan kepada Halimatus Sa'diyah selama 4 tahun.

    Halimatus Sa'diyah adalah wanita yang sangat miskin, sebenarnya anaknya sendiri sering menangis karena kekurangan ASI, tetapi setelah kehadiran Nabi Muhammad Saw, semua kehidupan rumah tangganya berupa. Atas pertolongan Allah setelah Nabi Muhammad Saw. tinggal bersamanya, binatang ternaknya menjdi gemuk-gemuk, air susunya banyak, sehingga anaknya tidak kelaparan lagi walau ia menyusui Nabi Muhammad Saw. Saat itulah Halimatus Sa'diyah merasakan bahwa telah mendapatkan rahmat dari Allah Swt. ketika menyusui Nabi Muhammad saw. waktu masih kecil.

    Setelah habis waktu yang telah ditentukan Nabi Muhammad Saw. dikembalikan kepada ibunya yang bernama Siti Aminah. Setelah Nabi Muhammad Saw. genap berumur enam tahun, beliau diajak ibunya ke Madinah untuk diperkenalkan kepada keluarga neneknya Bani Najjar dan diajak untuk berziarah ke makam ayahnya disana. Didalam perjalanan pulang menuju Mekkah, baru sampai disebuah kampung yang bernama Abwa', mendadak ibunya jatuh sakit sehingga ibunya meninggal disitu juga. Beliaupun menjadi anak yatim piatu.

    Nabi Muhammad Saw. kemudian diasuh oleh kakeknya, namun kakeknya kemudian meninggal dunia pula, ketika itu usia nabi, kurang lebih 8 tahun. Setelah itu beliau diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah pamannya yang kehidupannya kurang mampu, anaknya banyak. Namun ketika Nabi Muhammad tinggal bersamanya, Abu Thalib dapat merasakan keanehan, jika dia makan bersama Nabi Muhammad, maka makanan yang sedikit itu menjadi berkat, cukup dan merasa kenyang, tetapi jika tidak makan bersama beliau, makanan itu menjadi kurang yang dia rasakan. Rasa sayang pamannya terhadap Nabi Muhammad Saw. melebihi kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw. berusia 12 tahun pamannya Abu Thalib mengajak beliau berdagang kenegeri Syam. Ditengah perjalanan rombongannya bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang bernama Bahira. Pendeta itu melihat Muhammad yang telah memancarkan cahaya kenabian yang ada pada Muhammad, kemudian ia menasehati Abu Thalib supaya keponakannya itu dibawah pulang ke Mekkah, karena pendeta itu khawatir atas keselamatan Nabi Muhammad Saw, jika bertemu dengan orang-orang Yahudi. Kemudian Abu Thalib menuruti nasehat pendeta itu dan mengajak Nabi Muhammad Saw. pulang kembali ke Mekkah. Nabi Muhammad Saw. kemudian bekerja sebagai pengembala kambing dari keluarganya...

    Untuk selengkapnya tonton aja videonya dibawah ini !



    Kisah Mush'ab bin Umair (1)


    Mush'ab bin Umair adalah salah satu diantara para sahabat Rasulullah Saw. Beliau adalah seorang pemuda Quraisy yang paling tampan dengan jiwa dan semangat kepahlawanan. Para muarrikh dan ahli riwayat menggambarkan tentang Mush'ab bin Umair dengan kalimat: "Seorang warga kota Mekkah yang mempunyai nama paling harum."

    Mush'ab bin Umair lahir dan dibesarkan dalam kesenangan dunia dan hidup serba berkecukupan, seorang pemuda yang sangat dimanjakan oleh ibunya, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah dan menjadi idola ditempat-tempat pertemuan. Mush'ab bin Umair atau Mush'ab yang baik adalah salah satu diantara sosok seorang mukmin yang ditempa dan dididik oleh Rasulullah Saw, ketika beliau menyatakan keIslaman dan keimanannya kepada Allah Swt dan Nabi Muhammada Saw.

    Pada suatu hari Mush'ab bin Umair mendengar berita yang telah tersebar luas dikalangan penduduk Mekkah mengenai seorang yang mengatakan bahwa dirinya seorang Nabi dan Rasul Allah yang diutus sebagai pemberita gembira dan duka kepada seluruh manusia, yaitu Muhammad Al-Amin serta mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Swt yang telah menciptakan dan kuasa atas segala sesuatu. Maka Mush'ab bin Umair selalu mendengar berita tersebut. Walau umurnya masih terbilang muda, tetapi ia menjadi bunga majelis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya. Seorang pemuda yang tampan dan memiliki otak yang cerdas merupakan keistimewaan Mush'ab bin Umair. Sebagai sosok pemuda yang diandalkan dan pembuka jalan setiap ada permasalahan.

    Di antara berita yang beliau dengar adalah bahwa Rasulullah saw biasa mengadakan pertemuan disuatu tempat yang tersembunyi dan menghindari segala macam ancaman dan bahaya dari kaum Quraisy, yaitu di bukit Shafa dirumah Arqam bin Abil Arqam. Keraguan Mush'ab bin Umair hanya sebentar. Maka pada suatu hari menjelang sore dengan didorong oleh rasa ingin tahu agama baru (Islam) yang dibawah dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada pengikutnya. Dirumah Arqam, Rasulullah saw sering berkumpul dengan para sahabat untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran. Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Quran mulai mengalir melalui bibir Rasulullah saw yang menyentuh setiap yang mendengar, tak kecuali Mush'ab bin Umair. Beliau pun terpesona dan ayat-ayat Al-Quran seolah-olah masuk kedalam hatinya. Hampir saja Mush'ab terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah kemudian mengulurkan tangannya yang penuh berkah dan kasih sayang dan mengurut dada Mush'ab yang sedang panas, sehingga tiba-tiba menjadi sebuah hati yang tenang, seperti lautan teduh dan dalam. Akhirnya Mush'ab memilih Islam sebagai agama barunya serta meninggalkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya, kesenangan dan kehidupan yang mewah, bahkan orang yang ia cintai pun, yaitu ibunya sendiri dia tinggalkan.

    Khunas bin Malik adalah nama ibu Mush'ab, seorang wanita yang memiliki kepribadian kuat dan pendiriannya tidak dapat ditawar atau diganggu gugat, dan disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satupun kekuatan yang ia takuti, kecuali ibunya sendiri. Tantangan dari ibunya tidak bisa dianggap enteng. Ia segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan ke Islamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah Mush'ab sering bolak-balik ke rumah Arqam untuk menghadiri majelis Rasulullah, walaupun suatu saat nanti ibunya pasti tahu bahwa dia telah memeluk Islam dan akan murka kepadanya.

    Suatu hari ada orang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi. Kemudian di waktu yang lain dilihatnya pula Mush'ab shalat seperti Rasulullah. Dengan cepat ia segera melaporkan kepada ibu Mush'ab tentang apa yang dilihatnya dan dijamin kebenarannya. Berdirilah Mush'ab dihadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekkah yang berkumpul dirumahnya. Dengan hati yang yakin, Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. untuk mencuci hati mereka, mengisinya dengan keimanan dan ketakwaan. Ketika ibunya hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai demi melihat nur yang membuat wajah yang telah berseri-seri itu mendorong dihentikannya tindakan ibunya. Karena rasa keibuan, ibu Mush'ab terhindar dari memukul anaknya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan dalam membela berhala-berhalanya dengan jalan lain.

    Halaman Selanjutnya »»

    Kisah Penciptaan Malaikat Jibril 'Alaihi Salam



    Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah shallalahu alaihi wassalam pernah melihat Jibril dalam bentuknya (yang sesungguhnya). Ia mempunyai 600 sayap; masing-masing sayap menutup cakrawala. Dan setiap sayapnya keluar berwarna-warni mutiara dan yaqut (batu mulia). “Ibnu Katsir mengatakan bahwa isnad hadits ini jayid (bagus).

    Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits dengan isnad shahih bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam berkata mengenai Jibril,

    “aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi”

    Ketika menerangkan tentang Jibril ini, Allah berfirman

    “Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah firman Allah yang (dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai Arsy yang tinggi derajat, dipatuhi lagi dipercaya (At-Takwir: 19-21)

    Yang dimaksud dengan “utusan mulia” disini adalah Jibril, sedangkan “Pemilik Singasana” adalah Rabul’izzah (Allah).


    Telah bersabda Rasulullah S.A.W bahwa, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat Jibrail dengan bentuk yang sangat elok. Jibril mempunyai 600 sayap dan di antara sayap-sayap itu terdapat dua sayap yang berwarna hijau seperti sayap burung merak, sayap itu antara timur dan barat. Jika Jibrail menebarkan hanya satu daripada beberapa sayap yang dimilikinya, maka ia sudah cukup untuk menutup dunia ini”.

    Setelah memandang dirinya yang tampak begitu indah dan sempurna, maka malaikat Jibrail pun berkata kepada Allah, “Wahai Rabbku, apakah Engkau menciptakan makhluk lain yang lebih baik daripada aku?” Kemudian Allah pun menjawab pertanyaan malaikat Jibrail, “Tidak”. Mendengar jawapan Allah, maka malaikat Jibrail pun berdiri dan melakukan solat dua rakaat untuk bersyukur kepada Allah. Pada setiap rakaat shalat yang dikerjakan oleh malaikat Jibrail, dia menghabiskan masa selama 20,000 tahun lamanya.

    Setelah malaikat Jibril selesai melaksanakan solatnya, kemudian Allah pun berfirman kepadanya, “Wahai Jibril, kamu telah menyembah Aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh dan tidak ada seorang pun yang menyembahKu seperti ibadah yang kamu lakukan, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia, yang paling Aku cintai bernama Muhammad. Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa.

    Seandainya mereka mengerjakan solat dua rakaat walau hanya sebentar dan dalam keadaan lupa serta serba kurang, dengan pikiran yang melayang-layang dan dosa mereka pun besar, maka demi kemuliaanKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu lebih Aku sukai daripada solatmu. Hal tersebut kerana mereka telah mengerjakan solat itu atas perintahKu sedangkan shalat kamu bukan atas perintahKu”.

    Setelah mendengar hal tersebut, Jibril pun kembali bertanya kepada Allah, “Ya Rabbku, apakah yang Engkau berikan kepada mereka sebagai ganjaran atas ibadah mereka kepadaMu?” Maka Allah berfirman yang ertinya, “Ya Jibril, akan Aku berikan syurga Ma’waa sebagai tempat tinggal mereka”. Malaikat Jibril kemudian meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma’waa tersebut.

    Setelah Allah memberikan izin kepadanya, maka malaikat Jibrail pun mengembangkan sayapnya dan terbang menuju syurga Ma’waa. Satu hayunan sayap malaikat Jibrail adalah sama dengan jarak perjalanan selama 3000 tahun. Maka terbanglah malaikat Jibrail selama beberapa lama perjalanan, malaikat Jibril akhirnya kepenatan dan turun untuk singgah dan berteduh di bawah sebuah pohon. Di sana ia bersujud kepada Allah lalu berkata, “Ya Rabbku, apakah aku telah menempuh setengah atau sepertiga atau seperempat dari perjalanan menuju ke syurga Ma’waa?”

    Maka Allah pun berfirman, “Wahai Jibrail, meskipun kamu mampu terbang selama 3000 tahun dan meskipun Aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa puluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan shalat dua rakaat yang mereka kerjakan”.

    Sabda Rasulullah, “Sebelah kanan sayap Jibril terdapat gambar syurga berserta dengan segala isinya termasuk bidadari-bidadari, istana, pelayan dan sebagainya manakala sayapnya yang sebelah kiri terdapat gambar neraka dan segala isinya yang terdiri daripada beberapa macam ular yang cukup bisa, kala jengking dan neraka yang bertingkat-tingkat serta penjaganya yang terdiri daripada malaikat yang garang dan ganas yakni malaikat Zabaniyah“.

    Kata Rasulullah lagi, “Apabila telah sampai ajal seseorang itu, maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang kecil pada badan manusia kemudian mereka akan menarik rohnya dari kedua telapak kaki hingga lutut dan mereka pun keluar. Setelah itu datang lagi sekumpulan malaikat masuk menarik roh dari lutut ke perut. Begitulah seterusnya dari perut ke dada dan dada ke kerongkongnya. Itu saat nazak seseorang”.

    “Kalau orang yang nazak itu orang beriman, maka malaikat Jibrail akan menebarkan sayapnya yang sebelah kanan sehingga orang itu dapat melihat kedudukannya di syurga sehingga terlupa orang-orang di sekelilingnya. Jika orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibril akan menebarkan sayap sebelah kiri untuk menunjukkan tempatnya di neraka sehinnga ia menjadi sangat takut serta lupa kepada keluarganya”, kata Rasulullah.

    Kita sebagai umat Islam mesti mengakui kebenaran ini dan ia adalah sama seperti kita beriman kepada perkara ghaib. Tidaklah mustahil bagi Allah untuk menciptakan segala sesuatu kerana Dia maha pencipta. Cukuplah sekadar kita melihat langit yang tidak bertiang, bukankah ia perkara mustahil bagi manusia untuk membuatnya.?

    Dikutip dari berbagai sumber.