Kisah Umar Bin Khattab
Biografi Umar bin Khattab
“Ya Allah, jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.
Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al Faruq.
Umar bin Khattab Masuk Islam
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.
Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Rasulullah. Waktu itu Rasulullah membaca surat al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”
Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.
Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.
Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”
Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.”
Kepemimpinan Umar bin Khattab
Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al Qur’an dan as Sunnah setelah Abu Bakar.
Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639 M, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637 M, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641 M, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun Hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan shalat sunah Tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, “Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, “Umar bin Khattab berkata, ‘Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah’.”
Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak Samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya.
Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.
Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Allah dan Rasulullah. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka dengan berkata, “Aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.”
Wafatnya Umar bin Khattab
Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah (al Fairus dari Persia), budak milik al Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar, beliau wafat dalam usia 63 tahun.
Diambil dari berbagai sumber.
Dari : makhluktermulia
Kisah Safinah Ra. Ketika Ditolong Hewan Buas
Safinah Ra. adalah seorang pembantu dirumah Rasulullah Saw. Suatu hari ia mengadakan perjalanan yang lumayan cukup jauh, sebab untuk sampai ketempat itu selain menggunakan kendaraan unta, Safinah juga harus menggunakan kapal laut. Setelah ia tiba dipelabuhan kapal, Safinah langsung naik kapal yang akan membawanya ketempat yang ia tuju. Tak lama kemudian kapalpun berangkat meninggalkan pelabuhan.
Setelah berada dikapal cukup lama, waktu cuaca sangat bersahabat, dengan dihiasi pemandangan yang indah dan tiupan angin sepoi-sepoi. Sebuah perjalanan yang sungguh mengasyikkan Safinah waktu itu. Tak lama kemudian secara tiba-tiba Safinah terbangun dari tidurnya karena mendengas suara gaduh yang mengusik tidurnya. Ternyata orang-orang yang berada dalam kapal sedang panik, karena kapal telah diterjang ombak yang tingginya setinggi bukit, langit menjadi gelap dan angin bertiup dengan sangat kencang yang disertai hujan yang lebat dengan diiringi suara petir yang menggelegar. Tidak disangka cuaca yang tadinya bersahabat berubah menjadi garang dan mengerikan. Keadaan itulah orang-orang yang berada didalam kapal berteriak ketakutan karena panik.
Pembantu Rasulullah inipun tak tahu harus bagaimana dan tidak pula tahu apa yang harus ia lakukan karena kapal terombang-ambing diterjang badai ombak yang besar. Kapal pun mulai mengalami kebocoran disana-sini. Safinah kemudian pasrah atas kehendak Allah Swt. apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia berdoa memohon pertolongan Allah Swt. atas bencana itu.
Kajadian yang tidak diharapkan pun terjadi, kapal yang tumpangi Safinah inipun pecah diterjang ombak yang besar dan kuat. Kapal pun terbelah. Safinah kemudian tenggelam, kemudian berenang kepermukanan air laut dan mendapati sebauh papan kapal yang pecah itu digunakannya untuk berpegangan. Safinah pun hanyut mengikuti derasnya arus air yang bergelombang. Tentunya hal itu tidak mudah ia lakukan, karena tangannya yang terluka yang sudah pasti perih dan sakit lantaran sesekali dihempas oleh ombak, tetapi ia terus berusaha berpegang dengan papan itu dengan harapan agar selamat dan sampat ketepi pantai.
Sampai akhirnya Safinah terdampar disebuah pulau yang berhutan sangat lebat. Ia pun bersyukur diberi keselamatan oleh Allah Swt. dan mendapat keberuntungan saat kapal pecah akibat terjangan ombak yang besar. Setelah berhasil menemukan air tawar di sebuah sungai, ia menyelusuri air sungai untuk mencari perkampungan. Namun ditengah perjalanan ada ada seekor Harimau menghadang, ia terlihat sedang lapar yang seolah-olah siap menerkam Safinah. Safinah mencoba tetap tenang, sebab ketakutan akan menyebabkan hewan yang buas itu akan lebih ganas dan beringas.
Lalu Safinah berkata kepada Harimau itu:
"Wahai harimau, aku adalah pelayan Rasulullah Saw.,"
Perkataan itu meluncur dari mulutnya tanpa disadarinya. Safinah seperti mendapat ilham dari Allah Swt. Tanpa disangka harimau itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan harimau itu mengerti dengan apa yang telah diucapkan Safinah kepadanya. Harimau itu mendekat dan ketika berada didepan Safinah, harimau itu kemudian menunduk menurunkan punggungnya agar Safinah menaikinya.
Safinah yakin bahwa binatang ini tidak akan membahayakannya, lantas ia memberanikan diri untuk menaiki punggung harimau itu. Ternyata keyakinannya benar bahwa binatang itu bersahabat. harimau itu kemudian berjalan pelan membawa kesebuat tempat yang biasa dilalui orang. Setelah sampai harimau itu kemudian pergi meninggalkan Safinah dengan disertai suara auman harimau itu seperti mengucapkan selamat jalan kepada Safinah dan dijawab olehnya dengan ucapan terimah kasih dan doa keselamatan dari Allah Swt.
HIKMAH DIBALIK KISAH
Kisah safinah adalah sebuah kisah dari sebagian hamba Allah yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Menyerahkan semua hidupnya atas kehendak Allah Swt. Sabar dalam menghadapi cobaan, senantiasa bertawakal diiringi dengan usaha dan doa, maka sesulit apapun keadaan yang kita hadapi akan terasa mudah kita selesaikan, karena yakin Allah Swt adalah Tuhan kita dan yakin sepenuh hati Bahwa Dia akan menolong kita. Benar nggak sahabat Muslim. Subhanallah
Semoga kisah ini dapat menjadikan sebuah pelajaran yang baik untuk kita semua. Alhamdulillahi Robbil 'alamin. Amin.
Kisah Nabi Idris AS Melihat Surga dan Neraka
Setiap hari Malaikat Izrael dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu kali, sekali lagi Nabi Idris mengajukan permintaan. “Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka?”
“Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Izrael.
Setelah Malaikat Izrael memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris ke tempat yang ingin dilihatnya.
“Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Izrael.
“Terus terang, saya takut sekali kepada Azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan, iman saya menjadi tebal setelah melihatnya,” Nabi Idris menjelaskan alasannya.
Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan itu. Api neraka berkobar dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.
Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Izrael membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Izrael kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.
Wajah Malaikat Ridwan selalu berseri-seri di hiasi senyum ramah. Siapapun akan senang memandangnya. Sikapnya amat sopan, dengan lemah lembut ia mempersilahkan para penghuni surga untuk memasuki tempat yang mulia itu.
Waktu melihat isi surga, Nabi Idris kembali nyaris pingsan karena terpesona. Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris terpukau tanpa bisa berkata-kata melihat pemandangan sangat indah di depannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris beulang-ulang.
Nabi Idris melihat sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca. Di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Ada juga istana-istana pualam bagi penghuni surga. Pohon buah-buahan ada disetiap penjuru. Buahnya segar, ranum dan harum.
Waktu berkeliling di sana, Nabi Idris diiringi pelayan surga. Mereka adalah para bidadari yang cantik jelita dan anak-anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.
Mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.”
“Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izrael. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang.
Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.
“Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.
“Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izrael.
“Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris berusia 82 tahun.
Firman Allah:
“Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).
***
Pada saat Nabi Muhammad sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu.
“Inilah Idris,” jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57.
Sumber Bacaan: Alkisah Nomor 01 / 3-16 Januari 2005
Sumber kisah diambil dari SUFI Zona
Gambar: http://www.eternalhell.net/Choices%20-%20heaven%20or%20hell.jpg
Siti Manggopoh, Singa Betina dari Sumatera Barat
Namanya memang tidak setenar R.A. Kartini dari Jepara Jawa Tengah, yang memperjuangkan nasib perempuan, atau Cut Nyak Din yang berani mempertaruhkan nyawa dalam c. Bahkan mungkin orang lebih mengenal Rochana Koeddoes, pejuang hak-hak perempuan di Padang. Namun kalau dilihat dari catatan perjalanan hidup dan sepak terjang Siti Manggopoh tidak kalah dari ketiga pendekar tersebut.
Dalam kelemahlembutannya sebagai perempuan Minang, ia mampu menunjukkan peran perempuan di tengah dominasi laki-laki yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Ia siap mengorbankan nyawa dalam beberapa pertempuran melawan penjajah Belanda.
Teriakan takbir “Allahu Akbar” selalu berkumandang untuk mengobarkan semangat perjuangan pasukan yang dipimpinnya, yang semuanya laki-laki. Karena keperkasaannya itulah , masyarakat Minang Menggelarinya “Singa Betina Manggopoh”. Dialah satu-satunya “Singa Batina dari Minangkabau”, karena tak ada perempuan seberani dia dalam merintis kemerdekan di Sumatera Barat.
***
SITI Manggopoh, yang bernama asli cukup singkat, Siti, lahir di bulan Mei 1880 di Kenagarian Manggopoh, Kecamatan Luhak Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Manggopoh merupakan kenagarian tertua di Agam, disamping tiga Nagari lainnya, Bawan, Tiku, dan Garagahan. Di sana sawah dan ladang terbentang subur menghijau, didukung 13 sungai besar dan kecil, salah satunya sungai Antokan.
Orang tuanya, Sutan Tariak dan Mak Kipap, sudah lama mendambakan seorang anak perempuan. Sebab lima anak mereka sebelumnya semuanya laki-laki. Sebagai seorang Minang yang menganut adat Materilinial, keberadaan perempuan sangatlah berarti, untuk meneruskan keturunan dan merupakan kebanggan keluarga. Sebelum kelahiran Siti, keduanya merasa miskin, sehingga ketika Siti lahir menjadi kebanggaan, ibarat mendapat pengisi rumah gadang, Rumah adat Minangkabau, yang sudah sekian lama kosong.
Tumbuh dalam lingkungan saudara yang semuanya laki-laki, Siti Kecil terbiasa ikut ke pasar, sawah, Surau bahkan ke gelanggang persilatan, yang tempo dulu hanya di ikuti oleh kaum laki-laki. Orang tua dan abang-abangnya mengajari dan mendidiknya menjadi perempuan pemberani.
Dalam bertemanpun Siti tumbuh di lingkungan laki-laki, meskipun dia juga punya teman perempuan. Namun dia lebih senang melewatkan waktu bermain dan berjalan-jalan dengan teman-teman laki-laki, malah bermain hingga jauh dari kampungnya. Teman akrabnya Dullah Sutan Marajo, Udin, dan Majo Ali.
Namun sebagaimana perempuan Minang lainnya, Siti juga belajar mengaji di Surau, Bapasambahan (belajar keterampilan perempuan), selain melengkapi diri dengan ilmu bela diri. Saat beranjak dewasa, diapun di tuntut orang tuanya untuk menikah. Tapi tentu tak mudah bagi Siti menerima lelaki begitu saja sebagai suaminya.
Ia menginginkan lelaki yang kriterianya sangat “Sempurna” di zaman itu, harus paham ilmu agama dan dapat menguasai ilmu beladiri. Apalagi, seiring waktu berjalan, kepribadian Siti yang terbentuk kukuh, pantang melihat kezaliman, baik terhadap perempuan dan bangsanya, maka ia menuntut lelaki yang akan menikahinya harus segaris dengan cita-cita perjuangannya. Sebab, kala itu Belanda mulai melirik Nagari Manggopoh
Untunglah, akhirnya lelaki yang sesuai dengan kriterianya ia dapatkan juga pada diri Rasyid Bagindo Magek. Mereka bertemu saat sama-sama melayat seorang penghulu nagari yang meninggal. Rasyid adalah pemuda asal kampung Masang, masih dalam Kabupaten Agam. Dia Bako, atau masih ada hubungan keluarga dengan ayah Siti. Dan ternyata lima tahun sebelumnya Rasyid adalah teman Siti berlatih silat, selain Dullah dan Majo Ali. Tapi setelah itu Rasyid sempat merantau kemudian kembali kekampung sebagai pemuda yang dihormati karena penguasaan terhadap ilmu agama dan silat.
Pada 1904, keduanya menikah, dan beberapa tahun kemudian dikaruniai dua orang anak: Muhammad Yaman, laki-laki, dan Dalima, Perempuan. Untuk menggairahkan kehidupan bernagari, mereka membuka Gelanggang silat, yang akhirnya melahirkan pesliat-pesilat tangguh.
Pada saat Belanda mulai merayapi kenagarian Manggopoh, Siti mulai tak senang. Apalagi Belanda datang dengan menarik Belasting atau pajak. Menurut Abel Tasman dan kawan-kawan dalam buku Siti Manggapoh , saat itu beban kerja Rodi sudah sangat memberatkan masyarakat Manggopoh, hingga Siti dan beberapa lelaki berkumpul secara sembunyi-sembunyi untuk mengatur strategi menghadapi Belanda. Diam-diam mereka juga terus menerus mengasah kemampuan bela diri.
Semua itu mereka bungkus dengan berpura-pura patuh kepada Kompeni Belanda, menerima blangko pembayaran belasting, tapi di belakang Belanda mereka merobek-robeknya. Repotnya Belanda belakang hari mengetahuinya juga, mereka lalu turun ke Manggopoh untuk menyelidiki sikap masyarakat yang sebenarnya. Mereka mendirikan pos di sebuah bukit sejauh dua kilometer dari pasar Manggopoh. Ketika masuk ke desa, beberapa serdadu Belanda bertindak sewenang-wenang, bahkan ada diantaranya yang merendahkan martabat perempuan. Mereka juga tidak bisa menjaga adat sopan santun yang berlaku di kalangan masyarakat Manggopoh, seperti mandi bertelanjang bulat di Sungai.
Perilaku tak senonoh itu, tentu saja memicu kemarahan Siti. Ia bertekad untuk melawan Belanda sebagaimana kafir-kafir yang menebarkan noda dan aib di kampungnya. Penduduk Manggopoh yang fanatik sependapat, sehingga Siti seperti mendapat “Modal keyakinan” untuk berjihad fi Sabilillah melawan kafir Belanda.
Ia segera mengumpulkan teman-teman seperguruannya di persilatan, sementara suaminya menghubungi para guru silat dan orang-orang yang dituakan, seperti H. Abdul Gafar, gelar Rajo Sipatokan, dan H. Abdul manna, ulama yang banyak memiliki santri dan pengikut. Siti dan suaminya juga mempersiapkan senjata tajam, seperti Keris, dan golok yang disebut Rudus atau Ladiang.
Mula-mula Siti dan kawan-kawannya berusaha mengendus informasi mengenai rencana dan kekuatan Belanda. Bahkan ia sempat terjun langsung untuk memata-matai pasukan Belanda. Sebagai perempuan yang berpengaruh karena kharismanya, dan dengan sinar mata yang tajam, serta senyum yang membungkus kemarahan, ia menjalin persahabatan dengan para prajurit bahkan petinggi Belanda di Manggopoh.
Daya pikatnya sebagai perempuan yang cantik di zamannya, membuat ia bebas dan leluasa keluar masuk pos Belanda dengan menyamar sebagai perempuan desa yang lugu. Setelah itu ia menggali dan menelaah informasi yang dibutuhkannya. Dengan demikian ia tahu apa rencana Belanda yang akan menangkap penduduk yang mengabaikan Belasting. Mereka yang tidak mau membayar pajak akan dipenjarakan atau dibunuh. Diantaranya Dullah, temannya.
“Kamu tahu Dullah?” Tanya komandan Belanda kepada Siti. “Dia miskin, tidak mungkin mampu membayar Belasting” sahut Siti sambil menahan kegeramannya. Si Komandan tak acuh, malah memperlihatkan senjata-senajata baru yang lumayan banyak dengan sikap bangga dan tanpa curiga. Karena itulah Siti tahu jumlah serdadu Belanda di Manggopoh sebanyak 55 orang.
Informasi penting itu segera disampaikan kepada teman-teman seperjuangannya, lalu setelah itu mengatur strategi perjuangan. Menurutnya penyerangan ini harus dilakukan secara terorganisasi dengan kekuatan yang sudah pasti. Ia akhirnya menunjuk sebuah masjid di kampung parit, beberapa ratus meter dari markas Belanda.
Untuk mempersiapkan penyerangan, ia mengumpulkan para tokoh adat dan cerdik pandai untuk bermusyawarah, dipimpin oleh Pakcik Tuanku Padang, ulama asal Padang yang dianggap sebgai Urang Sumando (sbuah kekerabatan) oleh masyarakat Manggopoh. Hasil musyawarah itu disepakati mengajak masyarakat Kamang untuk bergabung. Maka ditunjuklah Majo Ali untuk menemui Ninik Mamak masyarakat Kamang. Mereka bertekad, “Setapak tak akan mundur, selangkah tak akan kembali.”
Selanjutnya dibentuk pasukan Inti yang terdiri dari 17 orang yang dipimpin langsung oleh Siti. Mereka itu, Antara lain, Siti, Rasyid, Tuaku Padang, Dullah, Majo Ali, Rahman Sidi Rajo, Tabuh Mangkuto Sutan, Dukap Marah Sulaiman, Muhammad bagindo Sutan, Tabad Sutan Saidi, Kalik Bagindo Marah, Unik, Sain Sidi Malin, Kana, Dullah Pakih, Nak Abbas Bagindo Bandaro, dan Sumun Sidi Marah.
Namun ternyata ada dua warga Manggopoh yang berkhianat, sehingga pada 14 Juni 1908 keberadaa pasukan 17 tercium oleh Belanda. Belakangan Belanda juga tahu, selama ini Siti ternyata memata-matai kekuatan Belanda. Hubungan erat antara Siti, Dullah dan Majo Ali (yang selama itu di incar Belanda) juga ketahuan. Dengan tuduhan menghasut warga Manggopoh agar tidak membayar pajak, mereka bertiga itupun ditangkap.
Mula-mula Belanda mengepung rumah Dullah, tapi sebelumnya ia sudah buru-buru menyingkir. Akhirnya karena kesal, serdadu Belanda itu menangkap Lipah, istri Dullah, berikut sebilah tombak dan keris. Lalu mendatangi rumah Majo Ali, namun orang yang di cari masih berada di Nagari Kamang, maka pasukan Belanda itupun menyandra Lilah, adik kandung perempuan Majo Ali. Ketika serdadu-serdadu itu menggerebek rumah Siti dan Rasyid, lagi-lagi mereka tidak menemukan siapapun, rumah Siti kosong dan terkunci rapat, namun sebenarnya Siti tengah mengambil air di Sumur belakang rumahnya, sementara Rasyid sedang mengantar Padi ke Kincir.
Segera Siti mengumpulkan teman-teman “Pasukan 17” di Padang Mardani untuk merencanakan penyerbuan ke Markas Belanda. Padang Mardani adalah daerah yang angker, karena di kelilingi oleh pekuburan dan pepohonan besar yang lebat, sementara bila malam tiba berkabut tebal. Demi merahasiakan tempat berkumpul itu, pasukan 17 membuat kawasan itu semakin seram. Jika pasukan Belanda lewat, dimalam hari beberapa pasukan Siti bergelantungan di pohon berselimutkan kain putih mirip hantu. Tak jarang para serdadu Belanda itu lari tunggang langgang.
***
SUATU hari Siti mendengar keluarganya akan ditangkap. Ia segera mengungsikan mereka, orang tua dan dua orang anak Siti di sebuah pondok di Padang mardani. Siti sendiri bersama suaminya di pondok lain, jauh masuk di dalam hutan Padang Mardani. Ketika mereka mengungsi itulah, pada 15 Juni 1908 warga Kamang melancarkan serangan dahsyat terhadap pasukan Belanda. Dalam peperangan yang disebut sebagai perang Basosoh ini, majo Ali tampil gagah berani dengan keris di tangan. Di belakang hari ia digelari “Putra Manggopoh Aceh Pidie” karena keberaniannya menyerupai perlawanan pejuang Aceh melawan si kafir Belanda.
Keesokan harinya, sore hari, Rasyid dan Majo Ali yang ikut dalam perang Kamang kembali ke Manggopoh untuk mengumpulkan pasukan 17. mereka menyerukan agar warga Manggopoh juga segera mengangkat senjata,”mengapa kalian semua diam? Kalau diantara kalian ada yang takut mati, sebaiknya pulang saja menanak nasi, dan biarkan saja saya berdua dengan Majo Ali menyerang kafir Belanda,” seru Siti.
Suara lantang satu-satunya perempuan dalam anggota pasukan 17 itu menyinggung semua perasaan laki-laki yang hadir. Kontan satu persatu mereka mengacungkan tangan, siap berjuang. “Allahu Akbar,” teriak mereka bersama-sama. Selanjutnya mereka mengucapkan ikrar, “Allahu Akbar, setapak pun tak akan mundur, Esa hilang, duo terbilang, biar mati berkalang tanah daripado hidup terjajah.”
Pasukan itu lalu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Siti, Rasyid, Majo Ali, dan Dullah, tugasnya masuk ke dalam markas Belanda. Kelompok kedua, berjumlah 10 orang, bertugas menjaga semua jendela dan pintu markas agar tidak sampai ada serdadu Belanda yang lolos.
Usai berdzikir, Rahman Aidi Rajo, salah seorang anggota pasukan 17, menguji tekad kawan-kawannya. Diambilnya sepotong kayu, lalu ditancapkan ke tanah, dan setiap anggota pasukan disuruh mencabutnya. Siapa yang berhasil mencabut, tidak diperbolehkan ikut berperang, karena dianggap masih ragu, dan ternyata tak seorangpun yang berhasil mencabutnya.
Bukan tidak bisa, melainkan tidak mau mengerahkan tenaga untuk mencabutnya. Berarti semua bertekad untuk berperang dengan sepenuh hati, dan menurut firasat Sidi Rajo, insya’allah tidak akan ada yang gugur. Usai salat Isya’ berjemaah, sebagai komandan pasukan, Siti menegaskan, “kalau nanti berpaling, saudara-saudara dianggap keluar dari Islam, dan saya akan tetap terus maju, meskipun seorang diri.”
Kira-kira pukul 20.30, pasukan Siti sampai di kampung Parit, tempat strategis untuk mengatur siasat dan berlindung. Seorang diantara mereka diutus untuk mengamati situasi markas Belanda. Tak beberapa lama, utusan itu kembali dengan mengatakan bahwa pasukan Belanda telah tidur. Siti dan pasukannya berangkat mendekati markas Belanda.
Tepat pukul 22.00, mereka mengepung markas Belanda, namun baru dua jam kemudian mereka mendekat, diawali oleh kelompok pertama, Siti dan Majo Ali menyelinap ke dalam markas, disusul Rasyid dan Dullah. Kelmpok kedua, tinggal di luar, mengamati jendedla dan pintu agar tidak ada serdadu Belanda yang lolos. Majo Ali segera memadamkan semua lampu. Ketika Majo Ali sedang membuka pintu kamar Komandan pasukan Belanda dan hendak mematikan lampu, sang komandan terbangun dan langsung menyerang. Majo Ali tak sempat mengelak, lehernya tercekik, melihat itu, Siti segera menyerang si Komandan, dia memukul punggung si Komandan dengan ujung Rudusnya, dan Majo Ali pun terselamatkan, namun Siti terdesak, seketika Rudusnya menyabet lampu hingga ruangan menjadi gelap. Siti langsung menusuk perut si Komandan, maka Belanda kafir iktupun tewas seketika.
Di tengah pekik takbir bersahutan, satu persatu serdadu Belanda berjatuhan, hingga tiba-tiba suasana menjadi hening. Pasukan 17 mengira pasukan Belanda yang berjumlah 55 orang sudah mati semua. Maka pasukan juhad itupun kembali pulang. Mendadak terdengar rentetan tembakan. Pasukan Siti berlarian menyelamatkan diri, namun malang bagi Siti, dia tertembak di punggung kanan atas. Sementara suaminya, Rasyid tertembak di selangkangan. Siti menemui Rasyid. Ternyata masih ada dua serdadu Belanda yang masih hidup. Keesokan harinya, kedua serdadu itu melaporkan penyerangan tersebut ke markas Belanda di Lubuk Basung. Belanda segera mengirim bala bantuan dari Pariaman dan Bukit tinggi untuk mengamankan Manggopoh. Sejak itulah suasana di Manggopoh mencekam.
Para pemuka masyarakat, ninik mamak Manggopoh, ditangkap dan dipenjarakan di Lubuk Basung. Sementara warga Manggopoh mengurung diri di rumah atau mengungsi ke hutan. Manggopoh pun di jadikan daerah tertutup. Penduduk dilarang keluar masuk Manggopoh. Siapapun yang mencurigakan akan ditangkap, yang melawan, langsung tembak ditempat.
Akan halnya Siti dan Rasyid, yang tertembak, mereka pulang berpisah jalan. Sampai di pondokan orang tua dan anak-anaknya, Siti langsung menggendong Dalima, anaknya yang masih berusia dua tahun, sementara tangan kirinya membelai kepala Tamam yang duduk disampingnya. Darah yang terus mengucur dari luka di punggungnya tak ia perdulikan. Tak berapa lama, muncul seorang Nelayan bernama Saibun, memberi tahu bahwa Rasyid bersembunyi diseberang sungai Antokan.
Ia menawarkan diri mengantarkan Siti menemui Rasyid Siti pun berangkat menemui Rasyid dengan menggendong Dalima. Setelah menyeberangi sungai Antokan dengan Perahu Saibun, Siti Melihat Rasyid melambaikan tangan dari sebuah pondok kecil nun dikejauhan. Dengan susah payah Rasyid lari mendekat, namun karena banyak mengeluarkan darah, ia roboh, tepat saat berada dihadapan Siti.
Siti segera merawat luka suaminya di pondok kecil itu, tak berapa lama Rasyid siuman. Mereka menetap di pondok Saibun selama tiga hari, lalu pulang melewati hutan belukar. Mereka berjalan di siang hari, malam hari beristirahat, tidur di bawah pohon besar. Sampailah mereka di sebuah ladang milik seorang lelaki tua, dan menginap semalam. Dari petani tua itu mereka tahu, keadaan di Manggopoh semakin buruk. Petani itu juga bercerita, Belanda telah mengumumkan akan memberi hadiah besar kepada siapapun yang berhasil memberi tahu tempat persembunyian Siti dan Rasyid.
Sementara itu tuanku padang, yang tidak ikut dalam penyerangan, karena tengah berada di Padang, merasa geram. Sehari setelah penyerangan yang dilakukan oleh pasukan 17, pada pukul 20.00 ia menyerang markas Belanda dibantu Unik dan Kana. Tapi mereka bertiga gugur. Dan segera setelah itu, Nagari Manggopoh dibumihanguskan oleh Belanda.
Adapun Majo Ali dan Dullah, yang bersembunyi di hutan, melarikan diri, sebab dikejar-kejar oleh pasukan Kavaleri Belanda. Karena kelaparan dan kelelahan, mereka tak mampu lagi berlari. Akhirnya Belanda menemukan mereka terkapar tak berdaya. Mereka gugur ditembak musuh dari jarak dekat.
Setelah 17 hari, Siti dan Rasyid dalam pelarian, sementara situasi di Manggopoh semakin tak menentu, tak tega mendengar keadaan itu, mereka sepakat menyerahkan diri. Mereka tak ingin rakyat lebih sengsara gara-gara Belanda ingin menangkap mereka. Dengan menyerahkan diri, mereka berharap Belanda tak akan lagi menekan dan menyengsarakan rakyat. Mereka lalu menemui wali nagari Bawan untuk menyerahkan diri. Disepanjang jalan, mereka saksikan warga Bawan menutup rapat pintu rumah mereka karena ketakutan. Mereka bertemu Djunis, warga Bawan, yang ternyata pernah belajar ilmu silat kepada Rasyid di Masang. Maka mereka tinggal sehari di rumah Djunis, baru pada keesokan harinya ke kantor wali nagari Bawan.
Ternyata tentara Belanda sudah menunggu di sana. Ketika mereka hendak diborgol, wali nagari mencegah, Jangan mereka diborgol atau dilukai, sebab hal itu dapat memicu kemarahan warga Manggopoh dan sekitarnya, kata wali nagari Bawan. Pada pukul 12.00 mereka bersama Dalima dalam gendongan Siti, diangkut ke Lubuk Basung dengan pengawalan ketat pasukan Belanda. Ternyata orang tua dan anak sulung mereka, Yaman, sudah lebih dulu berada di sana.
Meski sudah menyerah, Siti masih saja menunjukkan keperkasaannya sebagai pahlawan. Menjawab introgasi petugas klonial Belanda, dengan lantang ia menyatakan tidak takut dihukum gantung, :Saya menyerang markas dan membunuh serdadu Belanda, karena Belanda telah melanggar adat dan agama warga Manggopoh,” katanya. “Saya peringatkan pula agar serdadu-serdadu Belanda tidak lagi merendahkan martabat perempuan Minang yang sangat ditinggikan di masyarakatnya,” menyaksikan keberanian perempuan itu, introgator kolonial itu geleng-geleng kepala.
Akhirnya untuk sementara mereka ditahan di Lubuk Basung. Setelah mendekam di tahanan selama 14 bulan, mereka dipindahkan ke penjara Pariaman, dan 18 bulan kemudian mereka dipindahkan lagi ke penjara Padang. Setelah 12 bulan di penjara di Padang, Rasyid dibuang ke Manado, Siti yang juga minta dibuang bersama suaminya ke Manado, malah dibebaskan dengan alasan punya anak kecil. Sejak saat itulah tak terdengar lagi genderang perang di Manggopoh. Siti tinggal di rumah mengasuh anaknya, Dalima, yang tak lama kemudian meninggal.
***
PADA 1960, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Nasution menyampaikan penghargaan kepada Siti, bertempat di balai nagari. Nasution mengalungkan penghargaan Negara dan rakyat atas keperkasaan Singa Betina dari Sumatera Barat itu. Sang Jenderal bahkan sempat membopong dan mencium wajah tua Siti, yang di hari-hari tuanya sering dipanggil Mande (Ibu) Siti.
Ketika usianya mencapai 78 tahun, tubuhnya semakin lemah, sementara matanya mulai rabun. Namun akhirnya pada tahun 1964 harapan masyarakt Manggopoh terwujud juga. Pemerintah RI menggelari Siti sebagai pahlawan perintis kemerdekaan RI. Dan setahun kemudian, tepatnya 22 Agustus 1965, sang pahlawan pun wafat dalam usia 85 tahun di rumah salah seorang cucunya di kampung Gasak, Kabupaten Agam. Almarhumah dimakamkan di taman makam pahlawan Padang.
Riwayat perjuangan Singa Betina yang gagah berani itu tersimpan di museum Adityawarman dan Gedung Wanita Rochana Koeddoes, Padang. Siti telah berjuang, Siti telah tiada, tapi sosok kepahlawanan dan perjuangannya tetap dikenang sepanjang masa.
Sumber Kisah diambil dari SUFI Zona
Subscribe to:
Posts (Atom)



