Get Your Website Now

Kisah Laki-Laki Penghuni Surga


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. serta sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw. karena beliaulah kita semua dapat menemukan cahaya Islam yang menerangi segenap hati yang kelam menuju hati yang terang benderang yang terpancar dari hati yang terdapat iman.

Pada kesempatan yang bahagia ini atas segala limpahan rahmat dan nikmat dari Allah Swt. saya akan berbagi cerita dan kisah Islami kembali, yaitu tentang "Laki-Laki Penghuni Surga". Semoga bermanfaat dan selamat membaca......


Pada suatu hari, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhu bersama Rasulullah Saw. dan para sahabat yang lain sedang duduk di halaman samping (teras) masjid. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda,

"Akan datamg kepada kalian sekarang ini, seorang laki-laki penghuni surga."

Tidak lama kemudian setelah Rasulullah berkata memberitahu kepada para sahabat, masuklah seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan bekas air wudhu yang menetes dari wajah dan janggutnya. Keesokan harinya Rasulullah mengulangi perkataan yang pernah beliau katakan seperti kemarin. Kemudian Abdullah bin Amr mengira atau menduga kalau yang datang kali ini bukanlah orang yang kemarin. Tidak lama setelah itu datang lagi orang yang sama seperti kemarin dengan keadaan yang sama persis seperti kemarin dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan memetes pada janggutnya. Hari ketiga berkata seperti dua hari yang lalu dan yang datang tetap orang itu juga.

Kemudian setelah itu Rasulullah Saw. pergi, lalu Abdullah bin Amr bin Ash membuntuti laki-laki dari belakang hingga sampai kerumah laki-laki itu. Abdullah bin Amr kemudian mencari cara agar bisa mengetahui amalan apa yang dapat membuat laki-laki itu mendapatkan derajat yang tinggi sebagai penghuni surga seperti yang telah disabdakan Rasulullah Saw.

Lalu Abdullah bin Amr menghampiri dan berkata kepada laki-laki itu,

"Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Jika engkau setuju, aku mau tinggal bersamamu selama tiga hari." Kata Abdullah bin Amr

Laki-laki itu kemudian menjawab, "Ya, silakan!".

Selama Abdullah bin Ash berada dirumah laki-laki itu dan mengamati cara ibadah dan amalan apa yang lakukan, ternyat Abdullah bin Ash tidak melihat amalan khusus yang istimewa. Laki-laki itu tidak pernah bangun malam untuk shalat Tahajjud, tapi ia hanya mendengar setiap kali laki-laki itu terbangun selalu membaca zikir dan takbir, ia baru bangun dari tidurnya ketika waktu shalat subuh tiba. Pada siang harinya laki-laki itu tidak pernah berpuasa sunnah. Selain itu Abdullah tidak pernah mendengar laki-laki itu berbicara, kecuali yang baik-baik saja.

Setelah tiga hari telah berlalu, Abdullah mohon izin pulang, karena ia tidak melihat suatu keistimewaan amalan yang dikerjakan oleh laki-laki itu. Kemudian Abdullah bin Ash berkata:

"Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku. Tujuan aku menginap dirumahmu, karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dengan melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Ternyata kau tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai sesuatu yangdikatakan oleh rasulullah Saw.?"

"Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat sendiri." Jawab laki-laki itu

Ketika Abdullah bin Ash keluar beberapa langkah dari rumah laki-laki itu, laki-laki tersebut memanggilnya, seraya berkata:

"Benar, amalanku hanya yang engkau lihat, tetapi aku tidak pernah berbuat curang kepada seorangpun darim kaum muslimin ataupun lainnya. Aku juga tidak iri kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. kepadanya.!"

Abdullah bin Ash kemudian berkata:

"Kemungkinan amalan iniklah yang membuatmu mendapatkan derajat yang tinggi. Dan inilah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan."

Demikianlah kisah ini diceritakan kembali, semoga kita juga dapat mencapai derajat yang tinggi dan menjadi ahli (penghuni) surga, walau tidak dengan amalan yang demikian. Karena banyak jalan menuju surga.

terima kasih telah berkunjung di blog ini dan semoga semuanya dapat memberi manfaat untuk kita semua. Amin Ya Robbal 'alamin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



InstaForex

Balasan Yang Luar Biasa Karena Sedekah


Abu Umamah al-Bahili bukanlah seorang yang kaya raya. Baginya rezeki yang ia peroleh patut disyukuri, sedikit atau banyak semua itu adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Walaupun ia hidup dengan keadaan yang serba kekurangan, tetapi Abu Umamah selalu mengeluarkan sedekah dan suka menolong orang lain. ia berusaha sekuat tenaga agar bisa memberikan bantuan, terkadang sesuatu yang ia sedekahkan itu adalah barang yang sangat ia butuhkan untuk memenuhi kehidupan keluarganya sehari-hari.

Pada suatu hari, ketika matahari belum sepenuhnya menampakkan kemunculannya, tiba-tiba seorang pengemis mendatangi rumah Abu Umamah dengan kondisi pakaian yang lusuh, kotor dan compang-camping. Kaki kiri pengemis itu cacat, sehingga jalannya sedikit pincang. Abu Umamah kemudian menerima pengemis itu dan memintanya untuk menunggu sebentar. Abu Umamah segera masuk ke dalam untuk mencari sesuatu yang dapat ia berikan kepada pengemis itu. Ternyata ia hanya memiliki uang sebanyak tiga Dinar. Sebetulnya uang tiga dinar itu sangat ia butuhkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya hari itu. tanpa berpikir lama, Abi Umamah kemudian memberikan uang satu dinar kepada pengemis itu.

Tidak beberapa lama kemudian, ketika Abu Umamah akan menutup pintu rumahnya datang satu lagi seorang pengemis yang lain. Ia pun memberikan satu dinar kepada pengemis itu. Apa yang terjadi ! tak disangka-sangka rupanya datang lagi pengemis yang ketiga dan akhirnya ia pun memberikan uang yang masih tersisa satu dinar lagi kepada pengemis yang ketiga itu, sehingga Abu Umamah tidak memiliki uang lagi dan ia tidak dapat membeli kebutuhan untuk keluarganya pada saat itu.

Istri Abu Umamah lalu marah setelah diberitahukan, bahwa uang tiga dinar yang seharusnya digunakan untuk belanja sudah habis diberikan kepada pengemis-pengemis itu.

"Kita tidak memiliki apa-apa lagi. lantas dengan apa kita makan hari ini?"

Abu Umamah tidak menjawab perkataan istrinya itu, ia hanya diam dan menutup pintu kamar sampai azan Zhuhur. Setelah itu ia pergi ke masjid dalam keadaan perut kosong yang telah ia niati berpuasa sunnah. Istrinya kemudian meminjam uang kepada tetanggganya untuk membeli makanan berbuka nanti.

Ketika Abu Umamah dan istrinya selesai berbuka puasa, tiba-tiba datang seorang tamu, yaitu sahabat Abu Umamah sendiri. Setelah mereka mengobrol tentang berbagai hal, sahabatnya kemudian mengatakan maksud kedatangannya.

"sahabatku, Abu Umamah! Tujuanku kesini adalah untuk menghadiahkan uang tiga ratus dinar kepadamu. Perlu engkau ketahui, uang ini adalah laba dari uang yang pernah aku pinjam darimu." kata sahabatnya

Setelah menerima uang itu, Abu Umamah mengucapkan syukur mendapatkan pemberian yang menurutnya sangat luar biasa banyaknya.

"Tiga dinar dibalas dengan tiga ratus dinar? Alangkah besarnya balasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala." Yang terucap dari batin Abu Umamah

Ternyata Allah tidak akan mengingkari janji-Nya bagi orang-orang yang suka bersedekah dan berbuat baik kepada orang lain. Dia akan menggantinya dengan berlipat ganda. Dan orang-orang yang berusaha untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah., pasti akan memperoleh derajat yang tinggi dan mulia disisi-Nya.

Pada malam hari itu juga, lalu Abu Umamah memberikan sebagian uang pemberian sahabatnya itu kepada orang-orang fakir miskin dan yang membutuhkannya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," (QS. Al-baqarah: 261)

Para Pemain Sepak Bola Mualaf, Mereka Menemukan Kedamaian Saat Ibadah


Pemain asing yang sudah lama beredar di Indonesia banyak yang jadi mualaf. Salah satunya Cristian Gonzales, pemain naturalisasi Indonesia asal Uruguay yang menjadi aktor penting timnas Indonesia di Piala AFF 2010 yang lalu . Tentunya mereka jadi mualaf setelah melihat aktivitas kawan-kawannya yang mayoritas Muslim.Gonzales banyak belajar Islam dari istrinya, Eva Nurida Siregar. Gonzales dan Eva bertemu di Cili dan menikah pada tahun 1995. Saat itu Gonzales masih beragama Katholik dan istrinya beragama Islam.

Perpindahan Gonzales tahun 2003 ke klub Indonesia PSM Makassar menjadi pintu hidayah bagi Gonzales. Ia banyak belajar dari masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Tanggal 9 Oktober 2003 Christian Gonzales memutuskan untuk masuk Islam atas dasar kemauan sendiri dengan disaksikan oleh ustadz Mustafa di Masjid Agung al Akbar Surabaya. Christian Gerard Alfaro Gonzales kemudian diberi nama Mustafa Habibi. Nama Mustafa diambil dari guru spiritualnya, ustadz Mustafa sedangkan Habibi (cintaku) diambil karena rasa cinta sang istri amat besar kepada Christian Gonzales.

Islam memiliki kesan tersendiri bagi Gonzales “Karena di dalam Islam setiap ada sesuatu ada ucapan doanya seperti ketika masuk rumah mengucapkan assalamualaikum, ketika mau melakukan sesuatu diawali dengan basmalah, dan setiap melangkah dalam Islam selalu aja ada bacaan. Dan ini menjadi hati saya merasa tenang” Ungkap Eva mengutip ucapan Gonzales.

Mantan rekan setim Gonzales di Persik Kediri, Danilo Fernando juga memutuskan menjadi mualaf tak lama setelah merumput di Indonesia. Begitu pun dengan pelatih nyentrik asal Moldova, Arcan Iurii.

Di kesebelasan lain ada pemain asal Brasil, Antonio Claudio (Persibom, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara), pemain asal Cile, Patricio Jimenez (Semarang United), dan Javier Rocha (Batavia Union). Keputusan mereka menjadi mualaf umumnya didorong keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.

”Tidak ada orang yang memaksa saya masuk Islam. Saya menjadi mualaf murni karena keinginan saya sendiri,” ujar Danilo. Hal yang sama diakui Iurie. “Sebelumnya, aku lahir dan besar sebagai penganut Kristen Ortodoks. Kini aku serius menjadi pemeluk agama Islam. Pilihan ini bukan sekadar main-main,” ucap Iurie seperti dimuat eramuslim.com.

Sedangkan striker Delras Sidoarjo, Marcio Souza mengatakan dia sudah lama tertarik untuk memeluk Islam. Karena selama empat tahun dia bermain di Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, juga ikut memengaruhinya.

“Saya senang dan tertarik melihat kawan-kawan lain, selalu taat dan rutin beribadah kalau pas tiba waktunya shalat. Bahkan di tengah perjalanan sekali pun kawan-kawan tak lupa beribadah. Mereka seperti menemukan kedamaian saat beribadah,” katanya.


Sumber : KisahIslami.com

Tiga Doa Yang Terkabul


Suatu hari Saham bin Munjab merasa beruntung karena berada satu pasukan dengan Alla'bin Hadhrami. Saham sangat penasaran dengan Alla', karena banyak orang yang mengatakan bahwa Alla' adalah pembawa keberuntungan. Setiap peperangan yang di ikuti oleh Alla' bin Hadhrami pasti mendapatkan kemenangan. Selain itu, Alla' juga sangat dikenal sebagai orang yang doanya selalu terkabul.

Dalam perjalanan misi militer tersebut, tanpa sengaja Saham bin Munjab mendengar doa yang dipanjatkan oleh Alla' bin Hadhrami setelah shalat berjamaah. Adapun doa yang dibaca oleh Alla' bin Hadhrami adalah,

"Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu dan di jalan-Mu untuk memerangi musuh-musuh-Mu. Maka, limpahkanlah kepada kami air untuk diminum, untuk berwudhu, dan bersuci dari kotoran atau hadats. Bilamana kami meninggalkan tempat ini, maka janganlah Engkau jadikan nasib seperti ini kepada siapapun, selain kami."

Setelah beberapa waktu, rombongan pasukan muslimin menemukan air sungai yang mengalir deras. Kemudian pasukan muslimin mengambil air untuk keperluan pribadi dan bekal dalam perjalanan.

Saham bin Munjab sengaja meninggalkan tempat minumnya dengan tujuan menguji doa Alla' bin Hadhrami. Apakah dikabulkan Allah atau tidak.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh itu, kira-kira satu mil perjalanan dari sungai tersebut, Saham meminta izin kepada komandan pasukan muslimin untuk mengambil tempat air minumnya yang ketinggalan di sungai tadi. Setelah diperbolehkan ia kembali ketempat tersebut.

Di tem[at itu Saham bin MUnjab dapat menemukan tempat air minumnya, tapi sungainya telah berubah, yang tadinya air sungai itu berlimpah kini sudah kering dan tidak ada air sama sekali. Bahkan sedikitpun tidak meninggaklkan sisa.

Setelah melakukan perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan itu, pasukan muslimin sampai ke medan perang. namun ada yang menahan, yaitu terhalang oleh sebuah lautan yang memisahkan antara mereka dan musuh.

Dalam keadaan seperti itu, Saham mendengar Alla' bin Hadhrami berdoa,

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, dan dijalan-Mu kami memerangi musuh-Mu. Maka, berilah kami jalan untuk menuju musuh-Mu."

Setelah berdoa Alla' mengajak pasukan muslimin menyeberangi lautan. Yang sungguh menakjubkan adalah pelana kuda yang dikendarai oleh pasukan muslimin tidak basah sama sekali hingga keluar dari air laut dan ke garis musuh.

Setelah peperangan berakhir dan dimenangkan oleh pasukan muslimin, kemudian mereka kembali pulang. dalam perjalanan pulang tersebut Alla' bin Hadhrami jatuh sakit dan meninggal dunia. Karena tidak ada air, Alla' dikuburkan dengan pakaian yang dikenakan tanpa dimandikan.

Pasukan muslimin kemudian melanjutkan perjalanan pulang setelah memakamkan jenazah alla' bin Hadhrami. Tak lama kemudian ditengah perjalanan mereka menemukan sumber mata air, di antara mereka ada yang berinisiatif kembali ke pemekaman Alla' bin hadhrami dengan tujuan mengambil jenazahnya untuk dimandikan dan dikubur kembali.

Namun, ketika mereka menggali kuburan Alla' jenazahnya sudah tidak ada lagi, tetapi tidak ada tanda-tanda ada yang menggalinya atau dimakan hewan buas. Kemudian salah satu diantara mereka ada yang angkat cerita, bahwa ia pernah mendengar Alla' bin hadhrami berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berbunyi:

"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, sembunyikanlah jenazahku./ Jangan Engkau biarkan seorang pun melihat auratku."

Setelah mendengar cerita tersebut, pasukan muslimin sepakat untuk melanjutkan perjalanan pulang. Saham bin Munjab pun yakin, bahwa Alla' bin Hadhrami adalah adalah orang yang bertakwa, sehingga doanya selalu terkabul. Karena hal itu terbukti dengan Ketiga doanya tersebut telah dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala Robbul 'Alamin.

Demikianlah kisah ini diceritakan kembali dengan tujuan agar kita semua dapat meyakini tentang kekuatan sebuah doa dalam kisah yang telah diceritakan kembali oleh Ustadz Lutfil Kirom az- Zumaro dalam bukunya yang berjudul : Kisah Paling Menggugah 1001 keajaiban Ketakwaan. Penebit : Najah.

Kisah Ali Bin Abi Thalib R.A

Ali bin Abi Thalib sudah kita ketahui bahwa beliau adalah anak dari pamannya Nabi Muhammad Saw, yaitu  Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang pertama kali masuk Islam sejak kecil, kira-kira umur beliau terpaut 12 tahun lebih muda dari Rasulullah Saw. dan beliau juga merupakan sepupu dan sahabat serta sekaligus menantu Rasulullah Saw dengan menikahi anaknya yaitu Fatimah Az-Zahra.
Tidak heran jika beliau memiliki kepribadian dan berakhlak yang mulia, karena sejak kecil Ali bin Abi Thalib sangat dekat dengan Rasulullah Saw. Bukan itu saja beliau juga adalah seorang sahabat yang telah dijamin oleh Allah Swt. masuk surga.
Ali adalah orang shaleh, adil dalam segala hal, tegas dalam segala urusan, ahli dalam bidang kemiliteran dan mampu menggunakan alat-alat perang terutama dakam meenggunakan pedang. Karena kepandaiannya itu banyak orang-orang kafir Quraisy yang mati di ujung pedangnya dalam peperangan.
Ketika Usman bin Affan menjadi Khalifah menggantikan Khalifah Umar bin Khattab ra. Ali bin Abi Thalib menyetujuinya, tetapi tidak suka dengan kebijaksanaan dalam jabatan-jabatan yang selalu mementingkan atau mengutamakan keluarga Usman dan bukan diberikan kepada orang-orang yang mampu menduduki atau orang yang memiliki kemampuan dalam hal menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan.
Kematian Khalifah Usman bin Affan ditangan pemberontak membuat pusat pemerintahan Islam di Madinah tidak menentu dan disamping itu para pemberontak masih berkeliaran baik dari Mesir, Kuffah, dan Basrah. Dalam keadaan seperti ini penduduk Madinah terbagi menjadi tiga golongan.

- Golongan yang pertama. Golongan pemberontak yang membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah menggantikan Usman bin Affan dan beberapa sahabat yang ikut membaiat karena takut kepada pemberontak, yaitu Talhah dan Zubeir.

- Golongan kedua. Golongan yang menuntut kematian Usman bin Affan yaitu dari keluarga Umayyah yang dipimpin oleh Gubernur Syam (Irak).
- Golongan ketiga. Golongan yang menentang pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, karena tidak disetujui oleh umat Islam secara utuh. Golongan ketiga ini dipimpin oleh Aisyah dan dibantu olen Talhah serta Zubeir.

Ketika Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah yang ke empat yang sebelumnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, dan Usman bin Affan ra. Dalam kepemimpinannya banyak hal-hal yang beliau perbuat, seperti:

1. Mengganti seluruh pejabat dan gubernur yang diangkat oleh Khalifah Usman bin Affan. Para sahabat ada yang telah memberikan nasehat agar tindakan itu jangan dilakukan, karena menurut mereka pemerintahn Ali belum kuat. Akan tetapi nasehat itu tidak didengar, malah beliau tetap ingin mengganti para pejabat dan gubernur yang sudah ada.

2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dulu pernah dibagi-bagikan pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan.

3. Memerangi para pemberontak
.
Ali bin Abi Thalib telah memecat para gubernur yang telah diangkat oleh Umar dan salah satunya adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Irak, tetapi Muawiyah tidak mau mempersiapkan tentaranya untuk menghadapi khalifah Ali. sedangkan Ali bin abi Thalib sudah mempersiapkan pasukannya untuk memerangi Muawiyah.

Ketika akan berangkat ke Irak terdengar bahwa di Mekkah telah terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Aisyah, Talhah dan Zubeir. Maka tentaranya terlebih dahulu diarahkan ke Mekkah untuk memadamkan pemberontakan disana yang terjadi pada tahun 36 H/657 M. yang telah menguasai Basrah. Peperangan antara Ali dan Aisyah dikenal dengan nama "Perang Berunta" tentara-tentara pemberontak dipimpin oleh Aisyah (istri Nabi Saw). Sedangkan tentara Ali dipimpin oleh beliau sendiri.

Perang berunta itu dimenangkan oleh Ali. pada peperangan tersebut Zubeir dan Talhah sebagai pendukung Aisyah tewas, sedangkan Aisyah dibiarkan tetap hidup dan dikembalikan ke Mekkah dengan segala kehormatan sebagaimana layaknya menghormati istri Nabi Saw. dan sekaligus sebagai mertuanya.
Setelah pemberontakan di Mekkah dapat di atasi kemudian pasukan yang dipimpin Khalifah Ali bin Abi Thalib segera berangkat ke Irak untuk memerangi Muawiyah. Peperangan ini dikenal dengan perang Siffin. Peperangan yang melibatkan antara Ali dan Muawiyah. Perang antara dua keturunan antara Bani Hasyim dan Bani Umayah. Perang besar yang sama-sama bertujuan untuk keluhuran agama Islam, perang yang sebelumnya telah diramalkan oleh Rasulullah Saw dahulu dan perang ini juga sebagai pertanda akan terjadi perpecahan umat Islam dalam beberapa golongan atau aliran, serta perang besar ini juga sebagai tanda-tanda kiamat kecil. Peperangan ini terjadi setelah perang Jamal. Peperangan ini disebutg perang Siffin, karena pertempurannya terjadi di Siffin, sebelah barat sungai Effrat. Dalam peperangan ini Muawiyah kalah dan hendak melarikan diri. tetapi Amr bin Ash yang ada dipihak Muawiyah mengangkat Al-Quran setinggi-tingginya untuk damai dan ia mengatakan bahwa umat Islam tidak pantas berperang melawan sesama saudaranya (umat Islam) sendiri.

Ali bin Abi Thalib mendengar hal itu kemudian menghentikan peperangan dan sebagian lagi tidak setuju, karena kemenangan sudah hampir diperoleh. Kedua belah pihak setuju untuk mengadakan perdamaian. Masing-masing mengutus dari pihak Ali diutus Musa Al Asy'ari sahabat Nabi yang warok dan shaleh. Sedangkan dipihak Muawiyah mengutus Amir bin Ash.

Dalam musyawarah itu pihak Ali kalah atas kelicikan Amr bin Ash. Amr berjanji akan sama-sama menurunkan diri dari jabatan kekhalifaan dan Muawiyah menurunkan diri dari jabatan sebagai gubernur, lalu umatlah yang selanjutnya akan memilih siapa yang skan menduduki jabatan tersebut. Pada kesempatan itu Abu Muasa berpidato terlebih dahulu untuk menurunkan Khalifah Ali. Kemudian Amr bin Ash berkata, bahwa ia setuju Ali diturunkan dari kekhalifaan dan hal ini diumumkan kepada orang banyak. Kemudian Amr bin Ash berkat, bahwa ia juga telah menurunkan Muawiyah dari gubernur dan langsung mengangkatnya sebagai khalifah. Selanjutnya mereka tidak mau melanjutkan perang. Muawiyah kemudian mengirim Amr bin Ash untuk memerangi para gubernur yang diangkat olen Ali. Amr bin Ash berhasil membunuh gubernur Mesir, yaitu Muhammad bin Abi Bakar. Kemudian Amr bin Ash diangkat oleh Muawiyah sebagai gubernur Mesir dan kemudian memberontak kepada Ali.

Tentara khalifah Ali bin Abi Thalib yang tidak setuju peperangan dihentikan, lalu berbalik kebelakang untuk memberontak. Golongan yang tidak setuju ini adalah awal dari nama Khawrij yang di dalam Al-Quran dijuluki Allah Subhanahu wa ta'ala sebagai "Anjing-Anjing Neraka. Orang-orang Khawarij kemudian berniat akan membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash. Karena mereka menganggap ketiga orang ini adalah sumber dari tidak tenteramnya umat Islam.

Orang-orang Khawarij, seperti Ibnu Muljam berhasil membunuh Ali di Kuffah pada 17 Ramadhan tahun 40 H. Sedangkan Al Barah gagal membunuh Muawiyah dan Umar bin Bakir juga gagal membunuh Amr bin Ash. Setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat, kekhalifaan diduduki oleh anaknya, yaitu Hasan pada tahun 40 H. Karena tidak setuju, kemudian Muawiyah menyiapkan pasukannya untuk memerangi Hasan. Hasan mendengar hal itu. ia berusaha mengumpulkan pasukan, tetapi tidak berhasil. Dan akhirnya Hasan dan pengikutnya mundur ke Madain. Di Madain antara Muawiyah dan Hasan mengadakan perjanjian yang isinya antara lain.

1. Hasan rela tidak menjadi khalifah karena memelihara darah umat Islam.
2. Muawiyah jangan lagi mencaci maki ayahnya diatas mimbar.
3. Setelah Muawiyah nanti kursi kekhalifaan diserahkan pengangkatannya kepada umat Islam.

Demikianlah sejarah ringkas tentang khalifah Ali bin Abi Thalib yang saya ketahui. Jika ada kesalahan pada nama atau peristiwa yang terjadi pada kekhalifaan Ali bin Abi Thalib, mohon diberi tambahan. Wallahu a'lam bish shawab.

Perdagangan Yang Menguntungkan


"Dan diantara manusia itu ada seseorang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah."

Para sahabat Rasulullah saw adalah orang-orang yang telah membela dan banyak berkorban demi agama Islam. Mereka juga sebaik-baiknya pejuang di jalan Allah Swt.
Hal itu terjadi karena mereka menjadikan ajaran agama Islam sebagai tuntunan dalah prilaku mereka dan sesuatu begitu terasa berada di dalam hati mereka. Sehingga hatinya menjadi ikhlas dan tulus serta berani membela agama Islam meskipun harus membayarnya dengan mahal.

Ketika Islam mengajak mereka untuk hijrah, mereka menyambut seruan itu dan meninggalkan Mekkah walau hati mereka penuh kerinduan kepada kota kelahirannya. Namun mereka lebih mengutamakan akidah dibanding kampung halaman tempat mereka bermain semasa kanak-kanak, tempat yang penuh dengan kenangan indah.

Begitu juga ketika Islam mengajak mereka untuk berjihad. Ternyata mereka adalah prajurit-prajurit perang yang tangguh yang tidak mengenal rasa takut menghadapi musuh Islam. Mereka berhijrah bersama Rasulullah karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan mereka memberikan ketauladanan yang baik dalam pengorbanan dan keimanan yang sejati.
Ketika Shuaib pergi menyusul Rasulullah untuk berhijrah, beberapa orang Quraisy yang membuntutinya dan kemudian menghadangnya.
"Dulu kau datang pada kami dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, kemudian kau hidup bersama kami dan mendapatkan harta yang banyak sehingga kau menjadi orang yang seperti ini.

Tahu-tahu saat ini kau ingin keluar dengan membawa semua hartamu." kata salah seorang pemuka Quraisy.

"Demi Allah, hal itu tak akan kulakukan," kata Shuhaib seraya turun dari kudanya.
Dikeluarkannya anak panah dari tempatnya.

"Wahai kaum Quraisy, kalian tahu bahwa aku termasuk orang yang mahir memanah. Demi Allah, kalian tak akan menyentuhku, kecuali ingin terpanggang oleh anak panahku. Kemudian akan kutebas dengan pedangku yang selalu dalam genggamanku. Ayo lakukan apa yang kalian inginkan!" kata Shuaib lagi dengan suara lantang.
"Bagaimana kalau kutinggalkan semua hartaku untuk kalian, bila hal ini yang menjadi persoalannya?" kata Shuhaib. Apakah kalian akan membiarkan aku pergi?
"Ya. Pergilah dengan meninggalkan hartamu disini," jawab mereka.
Maka Shuhaib meninggalkan semua hartanya untuk mereka dan ia segera meneruskan perjalanannya menuju Madinah tanpa diganggu oleh kaum Quraisy itu, walau sebenarnya ia tidak takut menghadapi mereka.

"Telah beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya," kata Rasulullah, ketika Shuhaib berada dihadapan beliau dan menceritakan perjalanannya.
Dan turunlah firman Allah, surat Al-Baqarah ayat 207 yang berbunyi :
"Dan diantara manusia itu ada seseorang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah."

Masuk Surga meski Tidak pernah Shalat




Pada suatu hari, ketika Rasulullah Saw. sedang memimpin pasukan Muslimin untuk mengepung benteng Khaibar yang dalam pengepungan itu memekan waktu cukup lama, karena benteng yang dikuasai oleh Bani Khaibar itu cukup kuat dan tidak mudah untuk ditaklukkan.

Pada saat pengepungan itu ada seorang pengembala kambing berkulit hitam ditangkap oleh para sahabat dan dibawa kehadapan Rasulullah Saw. Pengembala itu dicurugai sebagai mata-mata musuh yang mengintai kekeuatan pasukan muslimin.

Ketika ditanya oleh Rasulullah Saw. terkait berbagai hal yang yang terkait dengan peperangan, pengembala itu tidak terkait sekali dengan apa yang dicurigai sebelumnya. Ia adalah seorang pengembala kambing yang bekerja mengembalakan kambing milik orang Yahudi yang kaya raya di Khaibar.

Kemudian pengembala kambing itu bertanya kepada rasulullah Saw.

"Wahai Rasulullah, mohon diterangkan kepada saya tentang agama yang engkau sebarkan, yaitu agama Islam." Si pengembala seorang budak hitam itu ingin tahu tenatang Islam yang dibawa Rasulullah Saw. karena menurut apa yang pernah ia dengar dari orang-orang bahwa islam adalah sebuah agama yang tidak memandang suku, ras, miskin atau kaya, serta warna kulit hitam atau putih. Dan yang membedakan hanyalah ketakwaan kepada Allah. tanya si pengembala itu seakan mengintrogasi rasulullah saw.

Rasulullah Saw. kemudian menjawab dengan memberikan keterangan tentang Islam dan membenarkan apa yang telah ia dengar tentang ajaran Islam yang tidak membedakan warna kulit. semua pertanyaan itu di jawab rasulullah Saw. dengan baik dan santun.

Tanpa disangka-sangka,pengembala itu dengan hati yang menerima dan sadar kemudian menyatakan diri untuk masuk Islam. Semua yang hadir menyaksikan itu mengucapkan syukur dan bertakbir menyambut KeIslaman sang pengembala kambing itu. Rasulullah sendiri yang mengajarkan dan menuntun sang pengembala itu membaca dua kalimat syahadat.

Si pengembala itu berkata :

"Wahai Rasulullah, aku adalah seorang buruh yang mengembalakan kamnbing, dan kambing-kambing ini adalah amanat, apa yang harus aku lakukan?" Tanya pengembala kambing itu setelah berpikir dia akan disiksa oleh tuannya jika ketahuan telah memeluk Islam.

Rasulullah Saw. kemudian menyuruh si pengembala itu untuk melempar batu kerikil ke arah kambing-kambing itu, sehingga semua kambing itu pulang sendiri kepada pemiliknya. Pengembala itu menuruti perintah rasulullah tersebut. Kemudian kambing-kambing itu berjalan keluar dari daerah itu secara beriringan, seolah ada yang menggiringnya hingga memasuki wilayah Bani Khaibar.

Pengembala itu lalu ikut berperang bersama kaum muslimin menyerang benteng Khaibar. Dalam peperangan itu ia gugur dan mati syahid. Kemudian jenazah si pengembala itu dihadapkan kepada Rasulullah Saw.. Para sahabat yang berada disekeliling beliau merasa heran ketika rasulullah Saw memelingkan wajahnya dari jenazah si pengembala tersebut.

Salah satu sahabat kemudian bertannya : "Ada apa ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan wajah dari jenazah pengembala ini."

Rasulullah Saw menjawab : "Hal yang perlu kalian ketahui, pengembala itu sedang bersama istrinya, bidadari dari surga yang membersihkan debu di wajahnya."

Demikianlah kisah Si Pengembala Kambing seorang budak berkulit hitam yang baru saja memeluk Islam kemudian ikut berjihad bersama kaum muslimin lainnya, kemudian ia gugur di medan perang lalu masuk surga walaupun ia belum pernah melakukan shalat sekalipun. Subhanallah, semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua. Dimana dalam kisah ini sudah barang tentu ada hikmahnya seoarang pengembala dengan membawa keyakinan penuh berjuang di jalan Allah Swt.